CERITA UNTUK
ANAK CERDAS
2
HARUN YAHYA
Ucapkan doamu sebelum doa-doa diucapkan untukmu.
Khatoons Inc.
Penerbit dan Distributor Buku-Buku Islami
6650 Autumn Wind Circle
Clarksville, Maryland 21029 USA
Phone: (410) 531-9653
1 800 667-7884
e-mail:
info@khatoons.com
http://www.khatoons.com
Printed
by: SECIL OFSET - December 2003
100
Yil Mahallesi MAS-SIT Matbaacilar Sitesi
4.
Cadde No: 77 Bagcilar-Istanbul
Tél: +90 212 629 06 15
DAFTAR ISI
1. Faruk dan Rayap
2. Asad dan Kupu-Kupu Warna-Warni
3 Burung Pelatuk dan Irfan
4 Jalal dan Burung Camar
5 Kamal dan Kunang-Kunang
6 Ahmad dan Kodok Hijau
7 Hamid dan Bangau Berkaki Panjang
8 Nabil dan Anjing Laut
9 Amir dan Sang Bunglon
10 Tariq dan Anjing
11 Farhan dan Kuda
12 Antar dan Kanguru
13 Zaki dan Laba-laba
14 Faruk dan sang Bebek
15 Ali dan Burung Unta
16 Kashif dan Beruang Pemakan Madu
17 Aisyah dan Landak
18 Mansyur dan Beruang Kutub Raksasa
19 Umar dan sang Ikan
20 Rashad dan Taufik
Lampiran: Tipuan
Evolusi
Anak-Anak
Tersayang!
· Satu bab tersendiri diperuntukkan bagi tumbangnya teori
evolusi, karena teori ini menjadi dasar dari seluruh filosofis anti-spiritual.
Sejak Darwinisme menolak fakta penciptaan—dan karenanya, juga menolak
Keberadaan Allah—lebih dari 140 tahun terakhir, telah banyak orang
menyingkirkan keimanan atau jatuh dalam keraguan. Karena itu, merupakan tugas sangat penting
untuk memperlihatkan pada setiap orang bahwa teori tersebut adalah suatu
penipuan. Berhubung beberapa pembaca mungkin hanya mendapatkan kesempatan untuk
membaca salah satu buku saja, kami anggap tepat kiranya mempersembahkan sebuah
bab untuk menceritakan subjek ini secara jelas.
· Seluruh buku penulis menjelaskan isu-isu keimanan dalam
ayat-ayat Al Quran. Penulis mengundang pembaca untuk mempelajari firman-firman
Allah dan melaksanakannya dalam kehidupan.
Seluruh topik berkenaan dengan ayat-ayat Allah dijelaskan sedemikian
rupa hingga tidak menyisakan keraguan atau ruang untuk bertanya-tanya dalam
benak pembaca. Kesungguhan buku-buku ini, kesederhanaan dan gaya yang fasih,
menjamin bahwa siapa pun, berapapun umurnya, apapun kelompok sosialnya, dapat
memahami isi buku dengan mudah. Berkat narasi yang efektif dan jelas, buku-buku
ini dapat dibaca dalam sekali duduk Bahkan, mereka yang bersikeras menolak
spiritualitas, akan dipengaruhi oleh
fakta-fakta yang didokumentasikan buku-buku ini, dan tak dapat menyangkal
kebenaran isinya.
· Buku ini, dan semua buku lain karangan penulis dapat
dibaca sendirian, atau didiskusikan dalam sebuah kelompok. Pembaca yang
antusias untuk memperoleh keuntungan dari buku-buku ini akan menemukan manfaat
diskusi, yang membiarkan mereka mengaitkan refleksi-refleksi dan
pengalaman-pengalaman satu sama lain.
· Sebagai tambahan, penerbitan dan pembacaan buku-buku ini,
yang ditulis semata-mata untuk Allah, merupakan persembahan besar bagi Islam.
Seluruh buku-buku penulis betul-betul meyakinkan. Berdasarkan alasan itu, salah
satu metode paling efektif untuk mengomunikasikan agama sejati pada orang lain
adalah dengan mendorong mereka untuk membaca buku-buku ini.
· Kami berharap pembaca akan memperhatikan ulasan-ulasan
buku lain dari penulis di bagian belakang buku ini. Sumber materinya yang kaya
pada isu-isu keimanan sangat bermanfaat, dan menyenangkan untuk dibaca.
· Tak seperti buku-buku lainnya, dalam buku-buku ini,
pembaca tidak akan menemukan pandangan-pandangan pribadi penulis,
penjelasan-penjelasan yang didasarkan pada sumber-sumber yang meragukan, atau
gaya-gaya yang luput dari penghargaan dan penghormatan atas topik-topik yang
suci. Begitupun, pembaca tak akan menemukan keputusasaan dan argumen-argumen
pesimistik yang menciptakan keraguan dalam pikiran dan
penyimpangan-penyimpangan hati.
Faruk dan Rayap
Hari Minggu yang cerah. Faruk bepergian ke hutan untuk berpiknik dengan guru dan
teman-teman sekelasnya. Setibanya di sana, mereka mulai bermain petak umpet.
Tiba-tiba, Faruk mendengar
sebuah suara menjerit, “Hati-hati!” Faruk mulai melihat ke kanan dan ke kiri,
tak pasti darimana suara itu berasal. Namun, tak seorangpun di sana. Kemudian,
didengarnya suara yang sama. Kali ini, suara itu berkata, “Aku ada di bawah
sini!” Tepat di sebelah kakinya, Faruk melihat seekor serangga yang tampak
mirip sekali dengan semut.
“Kamu siapa?” tanya Faruk.
“Aku adalah seekor rayap,”
makhluk mungil itu menjawab.
“Aku tidak pernah mendengar
makhluk yang bernama rayap,” ledek Faruk. “Kamu tinggal sendiri?”
“Tidak,” jawab serangga itu,
“Kami tinggal di sarang-sarang dalam kelompok-kelompok besar. Kalau kamu mau,
aku akan memperlihatkan salah satu padamu.”
Faruk setuju, dan mereka
berjalan. Ketika mereka tiba, apa yang diperlihatkan rayap pada Faruk tampak
seperti sebuah bangunan tinggi tanpa jendela.
“Apa ini?” Faruk ingin tahu.
“Inilah rumah kami,” rayap itu
menjelaskan.”Kami membangunnya sendiri.”
“Tapi, kamu begitu kecil,”
bantah Faruk. “Kalau teman-temanmu ukurannya juga sama denganmu, bagaimana
mungkin kalian bisa membuat sesuatu yang begitu besar seperti ini?”
Rayap tersenyum. “Kamu memang
pantas terkejut, Faruk. Makhluk kecil seperti kami mampu membuat tempat-tempat
seperti ini benar-benar mengejutkan. Tapi jangan lupa, semua ini gampang saja
untuk Allah, Pencipta kita semua.”
“Lebih dari itu,
selain sangat tinggi, rumah-rumah kami memiliki keistimewaan-keistimewaan lain.
Misalnya, kami membuat ruang-ruang khusus untuk anak-anak, tempat-tempat untuk
menumbuhkan jamur, dan kamar tempat ratu bertahta di rumah-rumah kami. Kami
tidak lupa membuat sebuah sistem pertukaran hawa untuk rumah kami. Dengan cara
itu, kami dapat menyeimbangkan kelembapan dan suhu di dalam ruangan. Dan,
sebelum aku lupa, biarkan aku memberitahu hal-hal lain, Faruq. Kami ini tidak
bisa melihat!”
Faruq sangat takjub. “Meskipun
kamu begitu kecil sampai-sampai sulit terlihat, kamu bisa membuat rumah-rumah
persis seperti gedung-gedung tinggi yang dibuat manusia. Bagaimana kalian
melakukan ini semua?”
Rayap itu lagi-lagi tersenyum.
“Seperti kukatakan sebelumnya, Allah-lah yang memberi kami semua bakat-bakat
luarbiasa ini. Ia menciptakan kami sedemikian rupa hingga kami mampu melakukan
hal-hal semacam ini. Tapi Faruq, sekarang aku harus pulang ke rumah dan
membantu teman-temanku.”
Faruq memahami. “Oke, aku
sendiri ingin pergi dan memberitahu orangtua serta teman-temanku tentang apa
yang telah kupelajari darimu barusan.”
“Gagasan yang bagus, Faruk,”
Rayap melambaikan tangan. “Jaga dirimu. Semoga kita bisa bertemu lagi.”
Asad dan Kupu-Kupu Warna-Warni
Di akhir
pekan, Asad berkunjung ke kakeknya. Dua hari berlalu begitu cepat, dan sebelum
Asad mengetahuinya, Ayahnya telah tiba untuk membawanya pulang. Asad
mengucapkan selamat tinggal pada kakeknya dan duduk di dalam mobil. Ia melihat
keluar jendela, menanti Ayahnya mengumpulkan barang-barangnya. Seekor kupu-kupu
hinggap di sebuah bunga tak jauh darinya, mengibaskan-ngibaskan sayap, dan
terbang ke jendela mobil.
“Kamu mau pulang ke rumah, Asad?” tanya
kupu-kupu itu dengan suara kecil.
Asad
sangat terkejut. “Kamu tahu siapa diriku?” tanyanya.
“Tentu
saja aku tahu,” senyum kupu-kupu mengembang. “Aku mendengar kakekmu
menceritakan dirimu pada tetangga-tetangga.”
“Mengapa
tidak dari dulu kamu datang dan bicara denganku?” Asad ingin tahu.
“Aku tak
bisa, karena aku berada dalam sebuah kepompong di atas pohon dalam taman,”
kupu-kupu itu menjelaskan.
“Sebuah
kepompong? Apa itu?” tanya Asad, yang senantiasa ingin tahu.
“Mari kujelaskan semua dari awalnya,” kata
kupu-kupu itu sambil menghirup udara dang-dalam. “Kami, kupu-kupu, menetaskan
telur menjadi ulat-ulat kecil. Kami memberi makan diri kami dengan mengerumuti
dedaunan. Kemudian, kami gunakan cairan yang keluar dari tubuh kami seperti
benang, dan membungkus diri kami di dalamnya. Bungkusan kecil hasil tenunan
kami disebut sebagai sebuah kepompong. Kami menghabiskan waktu beberapa lama di
dalam bungkusan itu sambil tumbuh berkembang. Ketika kami bangun dan keluar
dari kepompong, kami mempunyai sayap-sayap cerah berwarna-warni. Kami
menghabiskan sisa hidup kami dengan terbang dan memberi makan diri kami dengan bunga-bungaan.”
Asad
mengangguk-angguk penuh pemikiran. “Maksudmu, semua kupu-kupu berwarna-warni
itu dulunya adalah ulat-ulat, sebelum mereka menumbuhkan sayap?”
“Bisakah
kau lihat ulat hijau di cabang itu?” tanya kupu-kupu.
“Ya, aku
melihatnya. Ia sedang menggerogoti daun dengan kelaparan..”
“Itu adik
lelakiku,” kata ulat bulu itu tersenyum.
“Beberapa waktu lagi ia akan menenun sebuah kepompong, dan suatu hari akan
menjadi kupu-kupu seperti aku.”
Asad
punya banyak sekali pertanyaan yang ingin diajukannya pada teman barunya.
“Bagaimana caramu merencanakan perubahan ini? Maksudku, kapan kamu keluar dari
sebuah telur, berapa lama kamu menjadi
seekor ulat bulu, dan bagaimana kamu membuat benang untuk menenun kepompongmu?”
“Aku tidak merencanakan apapun,” kupu-kupu itu
dengan sabar menjelaskan. “Allah telah mengajari kami apa yang perlu kami
lakukan, dan kapan kami harus melakukannya. Kami hanya bertindak sesuai dengan
kehendak Allah.”
Asad
benar-benar terkesan. “Pola-pola di sayapmu sangat indah. Semua kupu-kupu
memiliki corak yang berbeda-beda,
bukankah begitu? Mereka betul-betul berwarna-warni dan menarik perhatian!”
“Itulah
bukti kesenimanan Allah yang tak tertandingi. Ia menciptakan kita satu demi
satu, dengan kemungkinan cara yang paling indah,” temannya menjelaskan.
Asad
menyetujuinya dengan antusias: “Tidak mungkin kita mengabaikan hal-hal indah
yang telah Allah ciptakan. Ada ratusan contoh di sekeliling kita!”
Kupu-kupu
setuju: “Kamu benar, Asad. Kita mesti berterimakasih pada Allah atas segala
berkah ini.”
Asad
melihat ke arah punggungnya. “Ayahku datang. Tampaknya kami akan segera
berangkat. Luarbiasa sekali bisa bertemu denganmu. Bisakah kita berbicara lagi
ketika aku datang minggu depan?”
“Tentu
saja,” kupu-kupu mengangguk. “Semoga selamat di perjalanan sampai ke rumah.”
Segala
sesuatu di langit dan bumi memuja Allah ... (Surat Al-Hadid, 1)
Tidakkah kalian melihat bahwa Allah mencurahkan air dari
langit, dan dengannya Ia menumbuhkan buah-buahan beraneka jenis? Di pegunungan,
terdapat lapisan-lapisan merah dan putih, bayang-bayang yang beranekaragam, dan
batu-batu hitam legam. Manusia dan hewan, serta ternak, juga beraneka warna.
Hanya pelayanNya yang berpengetahuan yang takut kepada Allah. Allah adalah Yang
Maha Kuasa, Maha Memaafkan (Surat Fatir: 27-28).
Irfan dan Burung Pelatuk
Hari
Minggu, Irfan berjalan-jalan di sebuah hutan dengan Ayahnya. Ketika tengah
berjalan, ia memikirkan betapa indahnya pepohonan dan seluruh alam semesta.
Ayahnya kemudian bertemu dengan seorang teman, dan ketika dua orang dewasa itu
bercakap-cakap, Irfan mendengar sebuah suara:
Tuk, tuk, tuk, tuk, tuk, tuk ... Suara itu
datang dari sebuah pohon. Irfan mendatangi burung yang membuat suara itu, dan
bertanya:
“Mengapa engkau memukuli pohon dengan paruhmu
seperti itu?”
Burung
itu menghentikan pekerjaannya, dan berbalik memandang Irfan. “Aku seekor
pelatuk,” jawabnya. “Kami membuat lubang di pepohonan, dan membangun
sarang-sarang kami di dalamnya. Kadang-kadang kami menyimpan makanan di dalam
lubang-lubang pohon ini. Lubang ini adalah lubang pertama buatanku. Aku akan
membuat ratusan lubang persis seperti ini.” Irfan memperhatikan lubang itu.
“Bagus. Tapi, bagaimana engkau menyimpan makanan di tempat sekecil ini?” Ia
berpikir.
“Sebagian
besar burung pelatuk memakan biji ek. Biji-biji ini cukup kecil,” si pelatuk
menjelaskan. “Di dalam setiap lubang, aku akan meletakkan sebiji ek. Dengan
cara itu, aku dapat menyimpan cukup makanan untuk diriku sendiri.”
Irfan
bingung. “Tapi, daripada capek-capek membuat puluhan lubang kecil seperti ini,”
katanya, “kamu bisa membuat sebuah lubang besar dan menyimpan semua makananmu
di sana.”
Burung
pelatuk itu tersenyum. “Kalau itu kulakukan, burung-burung lain akan datang dan
menemukan tempat persediaan makananku. Mereka akan mencuri biji ek. Lubang yang
kubuat berbeda-beda ukurannya. Ketika kuletakkan biji ek yang kutemukan ke
dalam lubang, kusimpan sesuai dengan ukurannya. Ukuran biji ek persis sebesar
lubang buatanku. Dengan cara itu, biji ek dapat menempati lubang dengan pas,
dan rapat! Allah menciptakan paruhku sedemikian rupa sehinga aku dapat
mengeluarkan biji ek dengan mudah dari dalam lubang. Karena itu, aku dapat
mengambil dari pohon tanpa kesulitan apapun. Burung-burung lain tak dapat
melakukan itu, karenanya, makananku aman. Tentu saja, aku tak punya otak untuk
memikirkan semua itu. Aku ini cuma seekor pelatuk. Allah membuatku melakukan
semua ini. Allahlah yang mengajariku bagaimana menyembunyikan makananku. Allah
yang menciptakan paruhku dengan cara yang tepat untukku. Sesungguhnya, ini
bukan hanya terjadi padaku—semua makhluk hidup mampu melakukan hal-hal yang
mereka lakukan karena itulah cara yang diajarkan Allah pada mereka.”
Irfan
setuju: “Engkau benar. Terimakasih telah memberitahu aku semua itu ... Kamu
mengingatkan aku pada kuasa Allah yang luarbiasa.”
Irfan
mengucapkan selamat jalan pada teman kecilnya, dan kembali pada Ayahnya. Ia
sangat gembira karena ke manapun ia memandang, ia selalu melihat keajaiban
Allah lainnya.
Jalal dan Burung
Camar
Ketika bepergian dengan kapal
feri, dalam cuaca yang panas-terik, Jalal paling suka duduk di dek kapal.
Dengan cara itu, ia bisa memandang laut lebih dekat, dan dapat memperhatikan
sekelilingnya lebih mudah. Satu hari, Jalal naik kapal feri bersama Ibunya. Ia
segera mendatangi dek dan duduk di sana. Sekelompok camar mengikuti feri seakan
mereka tengah berlomba satu sama lain. Camar-camar itu melakukan pertunjukan
yang menarik, berpilin dan berputar di udara, saling berebutan remah-remah roti
yang dilemparkan oleh para penumpang feri pada mereka.
Salah satu camar meluncur pelan
dan mendarat di tempat duduk sebelah Jalal.
“Suka nggak dengan pertunjukan terbang kami?” tanyanya. “Kulihat, kamu
memperhatikan kami begitu cermat. Siapa namamu?”
“Namaku Jalal. Ya, aku sangat
suka melihatmu terbang. Kulihat, kamu bisa tetap berada di udara tanpa perlu
mengepakkan sayap sama sekali. Bagaimana kamu melakukan itu?”
Camar tersebut
mengangguk-anggukkan kepalanya. “Kami, burung camar, menempatkan diri kami
sesuai dengan arah angin. Bahkan jika cuma ada sedikit angin, arus udara yang
naik akan mengangkat kami. Kami memanfaatkan gerakan ini, dan kami dapat
melakukan perjalanan jauh tanpa perlu mengepakkan sayap sama sekali.”
“Kami bergerak maju-mundur dalam kumpulan
udara yang naik dari (permukaan) laut,” burung camar melanjutkan penjelasannya.
“Arus ini memastikan bahwa kami memiliki udara di bawah sayap, dan hal itu
memungkinkan kami untuk tetap di udara tanpa menggunakan terlalu banyak
energi.”
Jalal masih tidak yakin apakah
dia betul-betul memahami. “Aku melihatmu di sana, di udara, tanpa menggerakkan
sayap, seakan-akan kamu tertahan di situ. Dan kamu melakukan semua ini dengan
bertindak sesuai dengan arah angin? Aku bisa lihat itu. Namun, bagaimana kamu
memperhitungkan kekuatan dan dari arah mana angin itu datang?”
“Dari pengetahuan kami sendiri,
tidak mungkin kami bisa melakukan itu,” camar memulai penjelasannya. “Ketika
menciptakan kami, Allah mengajari kami bagaimana caranya terbang, dan bagaimana
melayang di udara tanpa buang-buang energi. Contoh-contoh ini diberikan kepada
kami, sehingga kami dapat menyadari keberadaan Allah dan memahami kekuatanNya.”
Jalal memikirkan pertanyaan
lain. “Ya, kamu tetap tertahan di udara, seolah-olah diikat oleh seutas tali
... Agar mampu melakukan ini, kamu perlu mengetahui matematika dengan baik, dan
bisa melakukan perhitungan yang rumit. Namun, kamu telah melakukannya tanpa
masalah sejak awal kamu terbang, begitu kan?”
“Benar sekali,” camar itu
menyetujui. “Tuhan kita memberikan ilham bagi setiap makhluk hidup. Kami semua
melakukan apa yang diperintahkan pada kami.
Jangan pernah lupa bahwa Allah mencakup segala sesuatu dan menjaganya di
bawah kendaliNya. Ia adalah Pemimpin segala sesuatu. Engkau dapat menemukan
banyak ayat tentang hal ini di dalam Al Quran. Nah, feri ini mendekati daratan
sekarang, dan aku akan terbang kembali untuk bergabung dengan teman-temanku.
Sampai berjumpa lagi ...” Jalal menyaksikan teman barunya terbang menjauh, kian
mengecil di kejauhan.
Setibanya
di rumah, Jalal mencari sebuah ayat dalam Al Quran tentang segala sesuatu yang
berada di bawah kendali Allah. Ia menemukannya dalam Surat Hud, dan segera
mempelajari ayat tersebut dengan sungguh-sungguh:
[Hud menyebutkan,] “Aku telah meletakkan kepercayaanku
kepada Allah, Tuhanku dan Tuhanmu. Tidak ada makhluk yang muncul tanpa
perencanaan. Tuhanku berada pada Jalan Yang Lurus.” (Surat Hud: 56).
Tidakkah mereka memperhatikan burung-burung yang
dimudahkan terbang di angkasa bebas? Tidak ada yang menahannya selain Allah.
Sesungguhnya, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda
(kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang beriman. (Surat An-Nahl: 79).
Anak-anakku, pernahkah kalian
mendengar sejenis burung yang dikenal dengan nama MEGAPODE? Ketika
burung-burung ini mempunyai anak yang harus dibesarkan, selalu burung jantan
yang merawat anak-anak burung itu. Pertama, Ibu burung menggali lubang besar
untuk meletakkan telur-telur di dalamnya. Setelah telur-telur diletakkan,
burung jantan harus menjaga agar suhu sarang tetap 92 derajat Fahrenheit (atau
3 derajat Celsius).
Untuk mengukur suhu sarang, burung
jantan mengubur paruhnya dalam pasir yang menutupinya, menggunakan sarangnya
seperti termometer. Burung mengulang-ulang terus hal ini. Jika suhu sarang
meningkat, dengan segera burung membuka lubang udara untuk menurunkan suhu.
Paruh burung juga merupakan termometer yang luarbiasa peka. Jika seseorang
melemparkan segenggam tanah di atas sarang dan suhunya meningkat sedikit
sekali, burung dapat mendeteksinya. Pengukuran semacam itu hanya mungkin kita
lakukan dengan menggunakan sebuah termometer. Namun, MEGAPODE melakukan hal ini
sejak berabad-abad lamanya, dan tak pernah membuat kesalahan sekecil apapun.
Ini karena Allah mengajari mereka
segala sesuatu. Adalah Allah Yang Maha Kuasa, yang telah menciptakan paruh
dengan kepekaan seperti termometer.
Kamal dan
Kunang-Kunang
Pada malam musim panas, Kamal
dan keluarganya biasa menyantap makanan malam mereka di taman. Suatu malam di
musim panas, ketika mereka bangkit dari meja, Kamal melihat seberkas cahaya
timbul tenggelam di antara pepohonan di sisi taman. Ia pergi mendatangi
pohon-pohon itu untuk melihat apa yang terjadi. Dilihatnya seekor serangga
terbang melintas dengan cepat. Serangga itu sangat berbeda dengan yang biasa
dilihatnya di siang hari. Serangga kali ini memancarkan sinarnya ketika
terbang.
Serangga itu berhenti terbang
untuk beberapa saat, dan mendatangi Kamal. “Halo, “ katanya. “Kamu kelihatan
terkejut. Kamu sudah memperhatikan aku cukup lama. Namaku Kunang-Kunang. Namamu
siapa?”
“Namaku Kamal. Kamu benar, aku
belum pernah melihat serangga yang bekerdipan dengan sinar seperti kamu. Sinar
hijau kekuningan memancar dari tubuhmu. Aku teringat ketika aku menyentuh
sebuah bola lampu, tanganku terbakar. Apakah cahaya yang keluar dari tubuhmu itu
tidak melukaimu?”
Kunang-kunang itu mengangguk.
“Kamu benar, Kamal, waktu kamu katakan bahwa lampu menjadi sangat panas ketika
memancarkan cahaya. Bola lampu menggunakan tenaga listrik untuk menghasilkan
cahaya, sebagian tenaga listrik itu berubah menjadi panas. Itulah yang
menyebabkan lampu menjadi panas. Tetapi, kami tidak mengambil energi luar untuk
cahaya yang dipancarkan oleh tubuh kami.”
Kamal pikir ia mengerti. “Jadi,
itu berarti kamu tidak menjadi panas?” ia bertanya.
“Itu betul,” kunang-kunang setuju.
“Kami menghasilkan sendiri energi kami, dan kami gunakan energi ini dengan
sangat hati-hati. Itu berarti, tak sedikitpun energi terbuang, dan energi itu
tidak menghasilkan panas yang bakal melukai tubuh kami.”
Kamal menimbang sejenak, “Wah,
itu betul-betul sistem yang dipikirkan dengan cerdik.”
“Ya, memang,” temannya setuju.
“Ketika Allah menciptakan kami, Ia merencanakan segala sesuatu yang kami
perlukan dalam kemungkinan cara yang terbaik. Ketika kami terbang, kami
mengepakkan sayap sangat cepat. Tentu saja, itu adalah pekerjaan yang
membutuhkan banyak energi. Namun karena cahaya kami tidak banyak menggunakan
energi, kami tidak punya masalah dengan itu.”
Kamal punya hal lain yang ingin
ditanyakannya. “Untuk apa cahaya yang kalian pancarkan?”
Temannya menjelaskan: “Kami
menggunakannya untuk menyampaikan pesan di antara kami, juga untuk melindungi
diri kami sendiri. Ketika kami ingin mengatakan sesuatu satu sama lain, kami
berbicara dengan mengedip-ngedipkan cahaya kami. Pada saat yang lain, kami memanfaatkannya
untuk menakut-nakuti musuh kami, dan mengusir mereka dari kami.”
Kamal sangat terkesan dengan
apa yang telah dikatakan temannya pada dirinya. “Jadi, apapun yang kamu
perlukan ada di dalam tubuhmu, sehingga kamu tidak perlu berlelah-lelah!”
“Itu benar,” kunang-kunang
setuju. “Bertentangan dengan semua upaya terbaik mereka, para cendekiawan belum
berhasil mengembangkan sebuah sistem yang persis seperti kami miliki. Seperti
yang telah kukatakan sebelumnya, Allah menciptakan kami dengan cara yang paling
indah, dan dengan cara yang paling sesuai dengan kebutuhan kami, persis seperti
semua makhluk hidup lainnya.”
Kamal tersenyum. “Terimakasih.
Apa yang sudah kamu ceritakan padaku sungguh menarik. Aku sekarang menyadari
apa makna ayat yang kubaca kemarin, “Maka,
apakah (Allah) yang menciptakan itu sama dengan yang tidak dapat menciptakan
(apa-apa)? Maka, mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?’ (Surat an-Nahl:
17). Ketika kamu pikirkan diri sendiri, juga semua makhluk hidup yang telah
diciptakan Allah, ada banyak sekali contoh untuk diambil hikmahnya!!”
“Ya, Kamal, setiap makhluk
hidup adalah bukti keutamaan seni penciptaan Allah. Kini, kapanpun kaulihat
sesuatu, kamu akan mampu memperhatikannya. Sekarang, aku harus pergi. Tapi,
jangan lupa dengan apa yang pernah kita obrolkan!”
Kamal melambaikan tangan kepada
temannya. “Senang sekali bertemu denganmu. Mudah-mudahan aku bisa melihatmu
lagi ...”
Dalam perjalanan pulang,
merenungkan rancangan kunang-kunang yang begitu menakjubkan, Kamal ingin segera
memberitahu keluarganya tentang percakapannya dengan teman kecilnya.
Ialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang
Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Nama-Nama Yang Paling Baik. Bertasbih kepadaNya
apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha
Bijaksana. (Surat Al Hasyr: 24).
Laut Merah terletak di antara
dua gurun pasir. Tak ada sungai ataupun air segar yang mengalir. Dengan kata
lain, tidak ada pertukaran oksigen atau nitrogen. Normalnya, laut seperti ini
akan menjadi gurun tandus seperti daratan yang mengelilinginya. Namun, di Laut
Merah terdapat beranekaragam koral. Koral-koral yang mampu hidup di tempat ini,
kendati berada dalam kondisi-kondisi
sulit, dapat melakukan hal tersebut karena simbiosis (yaitu, cara hidup berdampingan
dengan makhluk hidup lainnya) yang mereka bangun dengan makhluk-makhluk lain
yang menyerupai tanaman, disebut alga (algae). Alga menyembunyikan diri dari
musuh-musuhnya di dalam karang-karang koral, dan menggunakan sinar matahari
untuk berfotosintesis. Gaya hidup yang harmonis dari kedua makhluk ini
merupakan bukti lain dari keajaiban penciptaan Allah.
Ahmad dan Kodok
Hijau
Pada
akhir pekan, Ahmad pergi memancing di sebuah danau bersama Ayahnya. Ketika
Ayahnya menyiapkan joran-joran pancing, Ahmad meminta izin untuk menjelajahi
kawasan sekitarnya. Ayah mengizinkan, asalkan Ahmad tidak pergi terlalu jauh.
Ahmad
mulai berjalan di antara kabut di tepi danau.
Seekor kodok tiba-tiba melompat di antara dua semak dan mendarat di atas
batu tepat di depannya.
“Kamu
hampir saja menginjakku!” si kodok mengeluh.
“Maaf,”
ujar Ahmad. “Warnaiiiiimu persis seperti dedaunan, sampai-sampai aku tidak
melihatmu, kodok kecil. Namaku Ahmad, dan aku sedang berjalan-jalan di sini.”
Kodok itu
tersenyum: “Senang sekali bertemu denganmu, Ahmad. Wajar saja kalau kamu tidak
melihatku. Aku hidup di antara semak-semak ini, dan warnaku senada dengan warna
dedaunan. Dengan cara itu, musuh-musuhku tidak dapat melihatku, seperti kamu.
Aku dapat bersembunyi dari mereka dengan mudah.”
Ahmad
berpikir sejenak. “Ya, tapi bagaimana kalau mereka melihatmu? Lalu, apa yang
kamu lakukan?”
“Kalau
kamu perhatikan dengan teliti,” kata kodok itu, sambil mengangkat sebelah
kakinya, “Kamu akan melihat selaput di antara jari-jariku. Ketika aku melompat,
kubuka semua jariku. Dengan cara itu, aku dapat melayang di udara.
Kadang-kadang aku bisa terbang sampai 40 kaki (12 meter) dalam sekali
lompatan.”
“Lalu,
bagaimana ketika kamu ingin mendarat?” Ahmad berpikir.
“Kugunakan
kaki-kakiku ketika ku terbang. Kugunakan selaput kakiku seperti parasut untuk
melambatkan kecepatan badanku saat mendarat,” kodok itu menjelaskan.
“Wah, itu sangat menarik,” Ahmad merenung.
“Sebelumnya, aku tidak pernah membayangkan kalau kodok bisa terbang.”
Kodok itu
menyeringai. “Beberapa spesies kodok dapat terbang sejauh mereka dapat
berenang. Inilah rahmat yang diberikan Allah pada kami. Allah menciptakan
warna-warna kami sedemikian rupa untuk menyamarkan kami dalam lingkungan tempat
tinggal kami. Hal itu memungkinkan kami untuk bertahan hidup. Jika Allah tidak
menciptakan kami seperti ini, dengan segera kami akan terbunuh oleh
binatang-binatang lain.”
Ahmad
melihat maknanya. “Selaput di antara jari-jarimu penting bagimu agar bisa
melompat dalam jarak yang jauh. Aku tidak punya selaput di kakiku karena aku tidak memerlukannya.
Kebutuhan setiap makhluk hidup berbeda-beda, bukankah begitu?”
“Ya, kamu
benar. Kamu menyatakannya dengan baik.”
Ahmad
menjawab, “Allah menciptakan kita dengan cara terbaik untuk memudahkan hidup
kita. Kita semestinya bersyukur padaNya karena itu.”
“Benar,
benar sekali, Ahmad,” temannya setuju. “Tuhan kita menciptakan semua makhluk
hidup sesuai dengan lingkungan tempat mereka hidup. Ia memberikan kita apapun
yang kita perlukan ketika kita dilahirkan.”
“Ya,” kata
Ahmad. “Sekarang, kodok kecil, aku harus pergi. Kalau tidak, Ayahku akan
mengira sesuatu terjadi padaku. Senang sekali berbincang-bincang denganmu. Jika
di lain waktu aku datang ke sini, aku akan kembali mengunjungimu.”
“Aku akan
menantimu. Senang juga bertemu denganmu. Selamat tinggal, Ahmad ...” kodok itu
berkuak sambil melompat kembali ke dalam semak, dan menghilang dari pandangan
Ahmad.
Kaki Kodok yang Berselaput
Salah
satu makhluk menakjubkan yang diciptakan Allah adalah sejenis kodok yang hidup
di hutan-hutan perawan. Ciri paling menarik dari kodok pohon kecil, yang
mempunyai kaki-kaki kecil dan selaput di
antara jemarinya, adalah bahwa ia dapat menggunakan kaki-kakinya untuk terbang
dengan meluncur di udara. Ketika kodok kecil ini terbang dari pohon ke pohon,
ia menggunakan kaki-kakinya seperti parasut ketika hendak melunakkan
pendaratannya. Dengan membuka selaput di antara jemarinya, kodok menggandakan
wilayah permukaan tubuhnya. Kodok terbang dapat melayang di udara sejauh lebih
dari 40 kaki (12 meter),
sebelum mendarat di sebuah pohon. Dengan menggerakkan kaki-kakinya dan mengubah
bentuk kaki yang berselaput, mereka bahkan dapat mengendalikan arah terbangnya.
Hamid dan Bangau Berkaki Panjang
Hamid adalah anak laki-laki
yang sangat rajin dan ceria. Ia sangat tertarik pada burung-burung, dan ingin
mengetahui segala sesuatu tentang mereka dengan baik. Terkadang ia merawat
burung-burung di rumahnya, tapi kemudian dibiarkannya mereka pergi. Ia sangat
menyukai kebebasan burung-burung itu. Suatu hari di musim semi, Hamid melihat
sekumpulan burung berkaki panjang terbang bersama-sama. Langsung ia berlari ke
teras rumahnya untuk memperhatikan mereka lebih dekat lagi. Sesampainya di
luar, ia melihat dua ekor dari sekumpulan burung itu telah mendarat di atap
rumah. Ia sangat gembira melihat mereka. Dilambaikannya tangannya, dan
dipanggilnya burung-burung itu.
“Halo, aku Hamid. Kalian siapa?”
“Halo, Hamid. Kuharap kami
tidak menyulitkanmu dengan mendarat di sini. Kami ingin sekali
berbincang-bincang denganmu, dan mengenalmu,” kata salah satu burung dari
pasangan itu.
“Dengan senang hati,” kata
Hamid. “Aku suka sekali pada semua burung, sangat suka. Dapatkah kalian
ceritakan sedikit padaku tentang diri kalian?”
“Tentu saja,” balas burung
pertama. “Kami adalah bangau. Kami merupakan burung-burung yang bermigrasi
dengan sayap-sayap seputih salju yang merentang sepanjang 3.5-5 kaki (atau satu
sampai satu setengah meter), ditambah ekor hitam yang panjang. Warna merah pada
paruh kami, dan kaki panjang kami, membuat penampilan kami tampak menarik.”
Hamid setuju. “Kamu betul-betul
tampak cantik!”
“Apa yang paling diperhatikan orang pada diri
kami adalah gaya terbang kami,” bangau itu melanjutkan. “Kami terbang dengan
paruh mengarah lurus ke depan, sementara kaki-kaki kami lurus ke belakang. Ini
membuat kami mampu terbang lebih cepat dengan memanfaatkan udara.”
Hamid ingin tahu, “Dan, kemana
kalian bepergian sekarang?”
“Setiap tahun kami bermigrasi
dalam kumpulan-kumpulan besar, Hamid, karena kami tak dapat berdiam di
tempat-tempat yang dingin. Dengan melakukan penerbangan ini, kami juga membawa
kabar baik pada orang-orang tentang mendekatnya hari-hari musim panas yang
hangat. Selama musim panas berlangsung,
kami tinggal di sepanjang wilayah luas yang merentang dari Eropa ke Afrika
Utara, dan dari Turki ke Jepang. Ketika cuaca mulai mendingin, kami bermigrasi
ke belahan bumi selatan, ke Afrika tropis dan India.”
Hamid bingung, “Tapi, bagaimana
kalian mengetahui saat-saat ketika cuaca mulai mendingin?”
Bangau itu tersenyum. “Itu
betul-betul pertanyaan bagus. Tentu saja, jawabannya adalah bahwa Allah
mengajari kami. Kami semua, pada waktu yang sama, merasakan kebutuhan untuk
berpindah ke negara-negara yang hangat. Allah membuat kami merasakan itu.
Adalah Allah yang memperlihatkan kami cara-cara terbang, dan ketika musim gugur
kembali datang, Ia memastikan bahwa kami dapat kembali melintasi jarak ribuan
mil dan menemukan kembali rumah lama kami. Allahlah dengan inspirasiNya yang
mengajari kami semua ini.”
“Menarik sekali! Kalian dapat bepergian jauh
dan kembali, lalu menemukan sarang lama kalian tanpa membuat kesalahan,
seakan-akan kalian memiliki kompas di tangan,” kata Hamid terkesan.
Bangau itu meneruskan, “Tentu
saja, jenis ingatan yang kuat seperti ini, dan kemampuan menemukan arah yang
baik, semuanya merupakan hasil penciptaan Allah yang luarbiasa, yang
memberikanNya pada kami.”
Hamid punya pertanyaan lain
pada teman barunya, “Kalian ‘kan
tinggal di dekat manusia?”
“Iya,” jawab temannya. “Kami
membuat sarang-sarang kami di atap-atap rumah. Dan kami membangun sarang-sarang
di puncak pepohonan serta cerobong asap ...”
Bangau
lain kemudian berdiri dan berkata, “Maaf, Hamid, kami harus melanjutkan
perjalanan.”
Hamid
menyaksikan teman-teman barunya tampak mengeci,l dan kian mengecil, ketika
mereka melanjutkan perjalanannya.
Tiadalah
binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua
sayapnya, melainkan umat-umat (juga) seperti kamu. Tiadalah Kami alpakan
sesuatupun di dalam Al Kitab, dan kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan.
(Surat al-An’am: 38).
Nabil dan Anjing
Laut
Nabil
tengah menonton televisi, suatu hari setelah kembali ke rumah dari sekolah. Ada
program dokumenter di sebuah saluran. Nabil senang sekali menonton dokumenter
tentang binatang-binatang yang tak pernah dilihatnya dalam kehidupannya
sesungguhnya. Kali ini, program itu bercerita tentang anjing laut. Nabil duduk
menghadap televisi, dan mulai menonton penuh minat.
Namun
tiba-tiba, ia merasa dingin. Ia memperhatikan sekelilingnya dan menyadari bahwa
sekarang, ia tengah berada di dalam gambar TV. Tepat di sebelahnya ada seekor
anjing laut yang baru saja disaksikannya di layar televisi!
“Halo!”
katanya, sedikit menggigil, pada si anjing laut. “Dingin betul di sini, apa
kamu tidak merasakan itu?”
“Kamu
pasti baru di sini!” jawab anjing laut. “Selalu dingin di sini. Paling hangat
suhunya 23 derajat Fahrenheit (minus 5 derajat Celsius), bahkan di musim panas.
Suhu seperti ini cocok buatku, karena kami, anjing-anjing laut, suka pada udara
dingin. Kami tidak pernah merasa (kedinginan). Mengapa bisa demikian? Itu
berkat bulu-bulu kami, jubah luarbiasa ini, yang telah diberikan Allah kepada
kami! Tentu saja, lemak di badan kami juga membantu melindungi kami melawan
dingin.”
“Ibumukah yang ada di sana?” Nabil menunjuk
seekor anjing laut yang lebih besar pada jarak kejauhan. “Kupikir, ia
mencarimu. Panggillah ia, dan biarkan ia tahu di mana kamu berada, kalau kamu
suka ...”
Anjing
laut itu meneruskan. “Kami, anjing laut, hidup dalam kumpulan yang besar. Dan,
ya, kami mirip sekali satu sama lain. Tetapi, Ibu kami tidak pernah bingung
membedakan kami dengan anjing laut lain. Inilah kemampuan yang diberikan Allah
padanya. Begitu bayinya lahir, sang Ibu memberinya ciuman selamat datang. Karena
ciuman inilah, ia mengenali bau bayinya, dan tidak pernah mencampurkannya
dengan bau bayi lainnya. Inilah salah satu rahmat Allah yang tidak terhitung,
yang telah diberikanNya pada kami. Kami bersyukur pada Allah yang Maha Kuasa,
karena Ia memberi Ibu kami kemampuan untuk mengenali kami di antara kerumunan
tempat kami tinggal.”
Ada hal
lain yang ingin ditanyakan Nabil. “Aku ingat pernah membaca bahwa kamu
menghabiskan sebagian besar waktumu di air. Jadi, bagaimana kalian belajar
berenang?”
Teman
barunya menjelaskan. “Allah menciptakan kita semua sesuai dengan
keadaan-keadaan tempat kita hidup, dan membuat kita siap untuk semua itu.
Seperti Ia menciptakan unta sesuai dengan kondisi-kondisi gurun, Ia juga
menciptakan kami sesuai dengan kondisi-kondisi dingin ini. Adalah kehendak
Allah bahwa kami terlahir dengan tubuh yang dilengkapi oleh selapis lemak yang
disebut lemak bayi. Badan kecil kami tetap hangat berkat lemak ini. Dan karena
lapisan lemak lebih ringan daripada air, maka lemak tersebut bertindak sebagai
sejenis pelampung ketika Ibu-Ibu kami mengajari kami berenang. Setelah dua
minggu belajar berenang, kami betul-betul menjadi perenang dan penyelam yang
hebat.”
“Jadi, Allah menciptakan sabuk pengaman yang
istimewa di dalam tubuh kalian, sehingga kalian bisa belajar berenang! Alangkah
hebatnya!”
“Itu
benar,” kata si anjing laut kecil. “Setiap makhluk hidup yang diciptakanNya
begitu sempurna merupakan bukti bahwa Allah memiliki kekuasaan atas segala
sesuatu.”
Persis
pada saat itu, Nabil dibangunkn oleh ciuman hangat di pipi, dari Ibunya.
Dokumenter di televisi masih berlangsung. Nabil teringat mimpi yang baru
dialaminya. Ia tersenyum pada si anjing kecil di layar televisi.
... Jika kaucoba untuk menghitung
rahmat Allah, engkau tak akan pernah mampu menghitungnya ... (Surat
Ibrahim: 34)
Di antara Tanda-TandaNya adalah
penciptaan langit dan bumi, dan seluruh makhluk ... (Surat Asy-Syura: 29)
ANJING-ANJING LAUT
YANG MAMPU BERTAHAN
Air
samudera amat sangat dingin, terutama di kedalaman. Karena alasan ini, Allah
menciptakan anjing laut, yang tinggal di air dingin, dengan selapis tebal lemak
di bawah kulit mereka. Lapisan ini mencegah anjing-anjing laut kehilangan panas
tubuh dengan cepat. Hal lain yang menarik dari anjing laut adalah susu yang
dihasilkan oleh anjing laut betina. Sejauh ini diketahui bahwa susu anjing laut
betina merupakan susu yang paling kaya, paling bergizi di alam ini. Susu ini
membuat bayi-bayi anjing laut, yang dibesarkan di bawah kondisi yang sulit,
tumbuh dengan pesat.
Amir dan Bunglon
Suatu hari, dalam perjalanan
sepulang sekolah, Amir meninggalkan teman-temannya, dan menjelajah di antara
pepohonan. Ketika bersandar di sebatang pohon, dan beristirahat, sebuah suara
datang dari balik batang pohon yang tergeletak di tanah.
“Salam, Amir,” kata suara itu. “Kamu lelah,
ya?”
Amir tak bisa mempercayai
telinganya. Ketika memperhatikan ke sekeliling batang kayu itu dengan teliti,
ia melihat seekor makhluk yang begitu mirip warnanya dengan batang pohon itu,
sampai-sampai Amir kesulitan membedakannya.
“Kamu siapa?” tanyanya. “Aku
betul-betul sulit melihatmu—warnamu dan warna batang kayu tempatmu duduk itu
betul-betul sama!”
“Aku seekor bunglon,” kata
makhluk itu, yang bentuknya menyerupai kadal. “Aku mengubah warnaku sesuai
dengan lingkunganku untuk melindungi diriku dari bahaya.”
“Bagaimana kalian melakukan hal yang luarbiasa
seperti itu?”
“Mari kujelaskan,” kata teman
barunya. “Aku punya zat pewarna istimewa yang disebut ‘kromatofor’ di kulitku.
Zat ini memungkinkan kami mengubah warna, menyesuaikannya dengan sekeliling
kami. Perubahan warna ini terjadi melalui pendistribusian dan pengumpulan
beragam zat dan pigmen dalam sistem sarafku. Jadi, biarpun aku berpindah sangat
pelan, aku dapat hidup tak terlihat, dan aman, di manapun aku berada. Tentu
saja, kemampuan ini diberikan padaku oleh Tuhan kita Yang Maha Kuasa, Yang
menyediakan kita dengan apapun yang kita butuhkan.”
Amir tidak begitu yakin bahwa
ia betul-betul memahami. “Dapatkah engkau beritahukan padaku sedikit lagi
tentang perubahan warna?”
Bunglon itu menarik napas
panjang dan mengangguk. “Ketika aku duduk di sebuah cabang berdaun di siang
hari, aku berubah menjadi hijau dengan noda-noda hitam cokelat, seperti
bayang-bayang cabang-cabang di sekitarku. Ketika gelap, aku betul-betul menjadi
hitam. Aku dapat mengerjakan semua perubahan warna ini hanya dalam waktu 15
menit. Ketika aku marah, aku mengembangkan titik-titik oranye gelap dan
noda-noda merah tua sebagai peringatan bagi binatang-binatang lain.”
“Itu betul-betul tak bisa
dipercaya!” seru Amir. “Apa lagi yang istimewa dari dirimu?”
Temannya tersenyum gembira.
“Mataku masing-masing bisa bergerak bebas. Aku bisa melihat ke atas dan ke
bawah sekaligus. Tentu saja, aku tak pernah mendapatkan ciri-ciri ini jika
Allah tidak menghendakinya. Allah menciptakan aku dan memberiku apapun yang
kuperlukan untuk bertahan hidup.”
Amir memperhatikan lebih dekat
lagi. “Kelihatannya cukup sulit mengeluarkan matamu.”
“Karena itu, supaya mataku
tidak menarik perhatian musuh-musuh, Allah menutupnya sepenuhnya dengan
sisik-sisik, hingga seakan-akan mereka tampak seperti bagian kepalaku yang
lain. Seperti yang bisa kamu lihat, ketika Allah menciptakan aku, Ia
merancangku dalam cara yang paling memungkinkan untuk menghadapi apapun yang
mungkin terjadi padaku.”
“Mulai sekarang,” kata Amir,
“aku akan memperhatikan hal-hal di sekelilingku lebih teliti lagi. Aku tak akan
pernah lupa berdoa pada Tuhan yang hebat dan berkuasa, ketika kulihat
bukti-bukti nyata kehadiranNya di alam. Terima kasih.”
Ialah Allah, Tuhanmu. Tidak ada Tuhan (yang berhak
disembah) selain Dia; Pencipta segala sesuatu. Maka
sembahkan Ia.
Ia adalah pemelihara segala sesuatu. Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan
mata, sedang Dia dapat melihat segala penghlihatan itu. Ialah Allah, Yang Maha
Menembus, Maha Menetahui. (Surat
Al An’aam : 102-103).
Hai manusia, kamulah orang miskin yang membutuhkan Allah;
sementara Allah adalah Yang Maha Kaya, lagi Maha Terpuji. (Surat Faathir: 15)
Tariq dan Sang
Anjing
Tariq
sedang bermain di rumah teman sekolahnya, Kashif. Ketika Ibu Kashif memanggil
anaknya ke bawah untuk suatu hal, Tarik ditinggal sendiri di kamar tidur. Saat
itulah anjing Kashif masuk ke kamar. Anjing itu sangat memikat, dan seakan-akan
bertanya, “Tidakkah kamu ingin bermain denganku?”
“Hei, ayo bermain,” kata Tariq sambil
melompat.
“Asyik,
aku senang sekali!” kata anjing itu, sambil mengibaskan ekornya dengan
antusias.
Tarik
membeku saking takjubnya. Anjing itu bicara! Ini merupakan kesempatan yang tak
boleh dilewatkan. Ia mulai bertanya tentang hal-hal yang selalu dibayangkannya
tentang anjing.
“Aku
selalu ingin tahu,” ia memulai, “Bagaimana kalian mengunyah tulang-tulang keras
yang kami berikan pada kalian untuk dimakan?”
Anjing
itu tersenyum, memperlihatkan sebarisan gigi yang putih, tajam. “Allah, yang
telah memberikan semua makhluk hidup ciri-ciri individual mereka, telah
memberikan, kami, para anjing, kemampuan fisik yang berbeda dari
binatang-binatang lain. Misalnya, kami punya lebih banyak gigi daripada kalian.
Jumlahnya 42, sehinggga kami dapat mengunyah makanan kami, terutama tulang,
dengan mudah.”
Tariq
mengangguk: “Kamu suka berlari, melompat, dan bermain seperti aku, iya kan? Kok
kamu nggak berkeringat?” ia berpikir.
Anjing
Kashif mengangguk setuju. “Kami tidak berkeringat seperti manusia untuk
mengendalikan panas tubuh kami, karena kami tidak punya pori-pori kulit. Kami
memiliki sistem pernapasan yang mengontrol suhu kami. Bulu-bulu mencegah panas
dari luar mencapai kulit kami. Tentu saja, ketika suhu meningkat, panas tubuh
kami juga meningkat. Ketika badan kami jadi terlalu panas, kami akan melepaskan
kelebihan panas dengan menjulurkan lidah dan bernapas cepat-cepat, sehingga
bahkan di hari-hari yang panas kami tidak berkeringat, biarpun bulu kami
tebal.”
“Allah telah memberikan kami sistem yang
bagus. Kalau manusia mengeluarkan keringat setelah berolahraga selama setengah
jam, kami bisa berlari tanpa henti berjam-jam tanpa mengeluarkan keringat sama
sekali. Mulai sekarang, kamu akan
memahami. Ketika kaulihat anjing-anjing dengan lidah terjulur keluar saat cuaca
panas, tidak perlu merasa kasihan pada mereka. Tentu saja kami, anjing-anjing,
tidak membuat sistem ini untuk diri kami sendiri. Inilah salah satu bukti
kekuatan kreatif yang luarbiasa dari Allah, yang telah menciptakan apapun dalam
bentuk asli sepenuhnya.”
“Aku
yakin indera penciumanmu berkembang begitu baik,” kata Tarik sambil
mengelus-elus hidung anjing.
“Kamu
benar,” anjing itu menyetujui. “Kami memiliki indera penciuman yang sangat
kuat. Indera penciuman yang berpusat di otak kami itu 40 kali lebih berkembang
dibandingkan kepunyaan manusia.”.
“Jadi ketika anjing polisi mencium sesuatu
sekali saja, anjing-anjing itu dapat pergi menemukan pemiliknya!” Tarik
menegaskan.
“Lagi-lagi
benar. Anjing-anjing yang biasa kamu lihat setiap hari adalah bukti-bukti
penciptaan Allah, persis seperti semua makhluk hidup lainnya. Camkan itu di
benakmu, dan jangan lupa untuk mengingat Allah dengan penuh syukur.”
“Terimakasih
banyak,” kata Tarik. “Aku tak akan lupa. Dan akan kukatakan pada semua temanku
apa yang telah kauberitahukan padaku tentang pemberian Allah padamu. Aku juga
akan meminta mereka untuk bersyukur
padaNya.”
Tepat
saat itu Kashif masuk kembali ke dalam kamar, dan mereka semua mulai berkejaran
dan bermain bersama-sama.
TEMAN-TEMAN KAMI TERCINTA
Ialah Pencipta segala sesuatu di Bumi untukmu ... (Surat
Al Baqarah: 29)
Anjing, Ahli Pencium
Anjing memiliki kepekaan istimewa untuk penciuman. Ketika menjelajahi
jalanan, mereka menemukan bebauan yang ditinggalkan oleh anjing-anjing lain,
dan bau-bau yang ganjil buat orang lain. Anjing mempelajarinya. Mereka dapat
mengenali bau di udara, biarpun cuma sedikit, tanpa kesulitan sama sekali.
Herder (anjing polisi), turunan anjing yang memiliki indera penciuman sangat
kuat, dapat melacak orang yang tidak meninggalkan jejak yang terlihat,
mengikuti jejak berusia empat hari dan menemukan aroma orang lebih dari 80 kilometer jauhnya.
Farhan dan Sang Kuda
Saudara perempuan Farhan ingin berlatih mengendarai kuda. Di akhir pekan,
mereka sekeluarga pergi ke sekolah berkuda.
Ketika saudara perempuannya, Ibu dan Ayahnya berbincang-bincang dengan
pelatih berkuda, Farhan pergi melihat-lihat seekor kuda yang tengah merumput.
“Halo!” kata Farhan. “Rumput yang
kamu makan kelihatannya sangat kotor dan berdebu. Apa itu tidak merusak gigimu?”
Kuda itu mengangkat kepalanya dan meringkik riang. “Tidak, teman kecilku.
Gigi kami membantu memotong-motongnya. Allah menciptakan gigi yang sangat
panjang buat kami. Gigi-gigi ini memiliki akar yang tertanam dalam rahang-rahang
kami. Bagian akar gigi kami lebih panjang daripada akar gigimu. Ketika gigi
kami patah, bagian di dalam tulang akan keluar. Setiap gigi dapat patah 1
sampai 2 inci (2.5 hingga 5 cm)
tanpa kami kehilangan kemampuan untuk makan.”
Farhan menimbang sejenak. “Jadi berkat ciri tersebut yang diberikan Allah
padamu, kamu terlindung dari kehilangan gigi dalam waktu singkat dan terhindar
dari kelaparan.”
“Kamu benar sekali,” kuda itu menyetujui. “Allah menciptakan setiap makhluk
hidup sesuai dengan lingkungan tempat hidupnya. Inilah salah satu bukti
penciptaanNya yang luarbiasa. Semua
makhluk hidup di permukaan bumi membutuhkanNya.”
Farhan mengingat film-film yang pernah dilihatnya tentang kuda. “Kalau aku
menaiki punggungmu, kamu bisa membawaku bermil-mil jauhnya, ya?”
“Iya. Tidak ada binatang lain yang bisa membantu manusia seperti kami. Saat
ini, tentu saja, ada banyak jalanan dan kendaraan bergerak di sana.
Sesungguhnya, baru pada abad terakhir saja mobil dan bentuk transportasi lain
mulai melayani orang. Ketika kakek-kakek buyutmu lahir, orang tidak tahu kalau
kelak akan ada benda seperti mobil.
Ketika itu, membawa orang adalah pekerjaan binatang, terutama kami, para
kuda.”
Farhan memperhatikan teman barunya lebih cermat lagi. “Dengan kaki-kaki panjang
itu, aku tak heran kalau kamu bisa bepergian jauh. Bisakah kamu juga berlari
cepat?”
Kuda itu
perlahan mengangkat sebelah kaki depannya. “Allah menciptakan kaki-kakiku tidak
hanya agar aku bisa membawa beban-beban berat, tapi juga agar aku bisa lari cepat
pada saat yang sama. Kami tidak memiliki tulang selangka seperti
binatang-binatang lain. Ini berarti kami dapat melangkah lebih lebar.”
Farhan
memikirkannya. “Jadi, Allah menciptakan kamu agar mudah membawa beban-beban
berat dan mampu berlari cepat.”
“Ya, Farhan,”
teman barunya setuju. “Allah menciptakan kami dengan ciri-ciri ini sehingga
manusia bisa memanfaatkan kami.”
Farhan
meringis kembali. “Aku yakin, apa yang telah kupelajari darimu jauh lebih
menarik untuk saudara perempuanku daripada belajar berkuda, saat kuceritakan
semua ini padanya!”
“Selamat
jalan, teman kecil,” sang kuda berucap dengan mulut dipenuhi jerami nan
lezat.
Ialah Pencipta semua spesies dan
emmberimu perahu serta ternak untuk kautunggangi (Surat az-Zukhruf:12)
IBU PANDA, PENGASUH
ANAK YANG ISTIMEWA
Ibu-ibu panda mengasuh bayi mereka dengan baik. Bayi-bayi panda membutuhkan
perlindungan khusus, karena ketika dilahirkan, mereka tak dapat menjaga dirinya
sendiri. Jika musuh menyerang bayi panda, Ibunya akan menggigit sang musuh
dengan rahang yang sangat kuat, dan mencoba melindungi bayinya dengan cara itu.
Tetapi, ketika Ibu panda membawa bayi-bayi mereka dengan mulutnya, Ibu-ibu ini
bisa sangat lembut. Adalah Allah yang mengajari panda bagaimana mereka harus
berperilaku. Allah yang menciptakan mereka, dan tahu yang terbaik yang mereka
perlukan.
Antar dan Kanguru
Ketika
Antar belajar dari sebuah buku cerita yang dibacanya, bahwa kanguru membawa
bayi-bayi mereka dalam kantung-kantung istimewa di perutnya, dengan kaget ia
bertanya pada dirinya sendiri, “Apa binatang-binatang ini memang betul-betul
punya kantung ?” Kanguru di buku itu tiba-tiba mulai melompat-lompat
mengelilingi halaman, dan menjawab, “Pantas saja kamu terkejut, Antar. Tapi,
ya, kami kanguru memang punya kantung di perut kami, dan di sinilah kami
memberi makan, melindungi, dan membesarkan bayi-bayi kami.”
Antar
memperhatikan dan melihat seekor bayi kanguru yang lucu menyodokkan kepalanya
dari kantung Ibunya di dalam gambar.
“Bagaimana
bayimu bisa masuk ke dalam kantung?” tanyanya pada Ibu kanguru, yang menjawab.
“Ketika
seekor bayi kanguru lahir, panjangnya cuma satu sentimeter. Bayi kecil itu,
yang masih belum berkembang, mencapai kantung setelah menempuh perjalanan
selama 3 menit.”
“Itu
sangat menarik,” Antar merenung. “Bagaimana kamu memberinya makan di sana?”
Ibu
kanguru menjelaskan dengan sabar. “Ada empat puting susu yang berbeda di
perutku. Di salah satu puting ini, ada susu hangat yang siap untuk diminum bayi
kanguru. Di tiga puting lainnya, susu dirancang bukan untuk memberi makan bayi
yang baru lahir, namun untuk bayi-bayi yang sedikit lebih besar lagi. Setelah
beberapa minggu, bayi itu akan meninggalkan puting yang memberinya minum
pertama kali, dan mulai minum dari puting lain sesuai dengan usianya. Ketika
bayi itu tumbuh lebih besar lagi, ia akan berpindah ke puting selanjutnya.”
“Sulit dipercaya!” seru Antar yang sangat
bergairah. “Bagaimana seekor bayi kanguru yang hanya sepanjang satu sentimeter
mengetahui puting mana yang harus dipilihnya? Dan bagaimana engkau, Ibu
kanguru, bisa menghasilkan empat jenis susu yang berbeda dalam setiap puting?”
Ibu kanguru melanjutkan penjelasannya. “Susu yang
memberi makan bayi yang baru lahir lebih hangat daripada jenis lainnya. Gizi
yang terkandung di dalamnya juga berbeda. Lalu, bagaimana menurutmu kami, Ibu
kanguru, memanaskan susu dalam puting-puting kami? Jangan lupa, Antar sayang,
sesungguhnya, bukan Ibu kanguru yang melakukan semua ini. Kami tidak pernah
tahu perbedaan-perbedaan dalam susu di puting-puting kami. Tidaklah mungkin
bagi kami memperhitungkan suhu susu. Kami juga tidak tahu bahwa setiap jenis
susu punya ciri-ciri yang berbeda, dan mengandung makanan macam apa. Kami hanya
tinggal menjalankan cara yang diinspirasikan Allah kepada kami. Allah, yang
menciptakan kami, memikirkan kebutuhan-kebutuhan bayi kami. Tuhan kami, dengan
belas kasih dan kemurahan yang tak terbatas, telah memberi susu dari jenis yang
paling sesuai bagi bayi-bayi kami, dan meletakkannya di tempat terbaik untuk
mereka, yaitu dalam kantung Ibu-ibu mereka.”
Katakanlah: “Kalau sekiranya lautan
menjadi tinda untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan
itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan
tambahan sebanyak itu (pula). (Surat Al Kahfi: 109)
Zaki dan Laba-Laba
Zaki
sedang berbaring di taman membaca sebuah buku. Matanya beralih dari buku yang
tengah dibacanya, dan ketika ia memperhatikan sekelilingnya, ia melihat sebuah
jaring laba-laba di cabang sebuah pohon. Zaki bangkit dan mendekati jaring
laba-laba itu, yang mulai diperiksanya dengan penuh minat. Laba-laba yang ada di dekat jaring kemudian berbicara
padanya.
“Salam, teman!” kata laba-laba dengan suara
kecil.
“Salam,”
balas Zaki, yang selalu sangat sopan. “Jaring yang kamu bikin ini betul-betul
sangat menarik. Bagaimana kamu membuatnya?”
Laba-laba
itu menarik napas dalam-dalam dan mulai menjelaskan. “Aku mulai dengan
menemukan tempat yang tepat untuk itu. Tempatnya harus di sebuah sudut, atau di
antara dua objek terdekat. Biar kujelaskan bagaimana aku membuat sebuah jaring
di antara dua cabang pohon. Pertama, aku memasang benang dengan kencang pada
salah satu cabang. Kemudian, aku pergi
ke sisi lain sambil terus mengeluarkan benang. Ketika sudah mencapai jarak yang
tepat, aku berhenti menghasilkan benang. Kemudian, aku mulai menarik benang
kembali mengarah pada diriku, sampai benang itu merentang kencang. Aku
memasangnya di tempatku berada. Kemudian, aku mulai memintal jaring di dalam
bagian lengkung yang sudah kubuat.”
Zaki
berpikir sejenak. “Aku tidak pernah mampu melakukan hal-hal seperti itu.
Misalnya, mengikat seutas benang dengan kencang di antara dua tembok. Sulit ‘kan mengikat benang dengan kencang?”
Laba-laba
itu tersenyum padanya. “Biar kujelaskan bagaimana kau memecahkan masalah itu.
Terkadang, aku membuat sebuah jaring di antara dua cabang yang jaraknya cukup
panjang satu sama lain. Karena jaring-jaring semacam itu sangat besar, mereka
juga betul-betul bagus untuk menjebak serangga-serangga. Namun karena jaring itu besar, berulangkali
ia kehilangan tegangannya. Hal itu juga mengurangi keberhasilanku menangkap
serangga. Aku pergi ke tengah jaring dan memasang seutas benang yang merentang
ke bawah. Kusambungkan sebuah batu kecil ke benang ini. Kemudian aku kembali ke
jaring dan mencoba menggulung benang ke atas dari tempat batu itu. Sementara
batu tergantung di udara, aku memasang benang kembali dengan erat di tengah
jaring. Hasilnya, karena batu di bawah pusat jaring terdorong ke bawah, jaring
akan merentang tegang kembali. Begitulah caranya!”
“Wah, metode yang luarbiasa!” kata Zaki, yang
sangat terkesan. “Bagaimana kalian mempelajari teknik semacam itu, dan
bagaimana kalian memanfaatkannya dengan baik? Laba-laba mestinya sudah
melakukan hal ini berjuta tahun lamanya ...”
“Kamu benar, temanku,”
laba-laba itu menyetujui. “Bodoh sekali jika berpikir bahwa kami punya
kecerdasan yang memadai untuk mengatur semua ini. Adalah Allah, yang memiliki
dan menciptakan segala sesuatu. Ialah yang memberiku keahlian untuk menggunakan
teknik ini.”
“Jangan lupa, Zaki,” laba-laba
itu lantas mengingatkannya. “Bagi Allah, semua sangat mudah. Allah memiliki
kekuasaan untuk menciptakan keragaman makhluk hidup dan tempat yang tak
terbatas.”
“Terimakasih atas apa yang
telah kaukatakan padaku,” kata Zaki, anak laki-laki yang sangat sopan itu.
“Sekarang aku memahami lebih baik lagi betapa berkuasanya Allah, dan betapa
luarbiasanya pengetahuan yang dimilikiNya, setiap kali kulihat makhluk hidup
yang diciptakanNya, juga rancanganNya nan sempurna.”
Faruk dan Bebek
Suatu
hari, paman Faruk membawa keponakannyanya ke tempat yang sudah lama ingin
dikunjunginya. Tempat ini adalah kebun binatang, di mana Faruk dapat secara
langsung menyaksikan binatang-binatang yang selalu dibacanya di buku-buku dan
majalah dan di televisi, dalam kehidupan nyata. Perjalanan itu panjang, namun
menyenangkan. Di jalan, pamannya menjelaskan pada Faruk tanda-tanda kebesaran
Allah di alam semesta, dan memberikan contoh-contoh dari Al Quran.
Akhirnya
mereka tiba di kebun binatang. Mata Faruk melebar saking takjubnya. Tak pernah ia melihat begitu banyak binatang
yang berbeda, bersama-sama di sebuah tempat. Ketika mereka sampai di kawasan
unggas, Faruk meninggalkan pamannya dan pergi ke kandang bebek. “Unggas yang
indah sekali,” katanya tentang salah satu di antara mereka. “Terima kasih,”
sebuah suara menjawab. Faruk memperhatikan sekelilingnya, namun tak seorangpun
ada di sana. Kemudian, ia baru menyadari bahwa bebek yang tengah diamatinya
itulah yang berbicara padanya.
“Halo,” kata bebek. “Terimakasih atas
pujianmu. Selain punya penampilan yang tampan, aku juga memiliki ciri-ciri lain
yang menarik. Tahukah kamu hal itu?”
Faruk
menjawab dalam kegairahan yang menyala. “Tidak, tapi aku betul-betul ingin kamu
memberitahukan itu padaku.”
Bebek itu
bertengger di sebuah cabang yang nyaman dan memulainya. “Tahukah kamu kalau
kami bisa terbang sangat cepat? Ketika terbang, bebek dapat bepergian dengan
kecepatan lebih dari 30 mil
(50 kilometer)
per jam. Lebih dari itu, kami secara berkesinambungan mengganti arah untuk
mencegah tertangkap oleh hewan pemangsa.
Ketika kami perlu menyelam di bawah permukaan air, kami melakukannya
sangat cepat hingga sulit menjadi sasaran para pemburu.”
Mata
Faruk terbuka lebar. “Untuk seekor burung, itu betul-betul terbang yang cepat.
Maksudmu, musuh-musuhmu memaksamu terbang begitu cepat?”
“Ya,
Faruk,” balas sang bebek. “Biar kuberikan sebuah contoh untukmu. Teman kami,
bebek es, biasa dijadikan sasaran cara berburu burung-burung camar yang
menarik. Camar menyerang mereka terus-menerus dari udara, dan membuat
bebek-bebek menyelam ke dalam air. Camar-camar itu terus melakukannya hingga
bebek-bebek terpaksa muncul kembali ke permukaan, kelelahan dan tak berdaya.
Kemudian, camar memburu bebek dengan
menukik ke tengah-tengah kelompok bebek, dan mematuk-matuk kepala
bebek. Namun, camar tak selalu dapat
memenangkan pertarungan. Bebek-bebek es juga memiliki cara yang istimewa untuk
melindungi diri mereka sendiri. Jika mereka melihat seekor camar di langit,
dengan segera, bebek-bebek akan
berkumpul bersama dalam kelompok besar. Ini berarti, burung camar tak dapat
menangkap seekor bebekpun dari sekumpulan besar bebek yang menyelam, sampai
akhirnya camar itu sendiri yang kelelahan dan menyerah.”
“Alangkah
cerdasnya bebek-bebek itu!” Faruk mengagumi. “Bagaimana mereka mampu
melakukannya?”
“Jawabannya jelas, Faruk,” seru si
bebek. “Allahlah yang menciptakan bebek dan seluruh makhluk hidup lainnya, dan
Ialah yang mengajari mereka cara melindungi diri sendiri.”
“Terima kasih, bebek yang baik,” kata Faruk. “Kamu telah memberikan aku
beberapa pengetahuan yang bermanfaat hari ini, dan mengingatkan aku pada
tanda-tanda Tuhan kami. Sampai berjumpa lagi,” katanya, sambil melangkah
kembali untuk menemukan pamannya.
Maka, apakah Allah yang menciptakan itu sama dengan yang
tidak dapat menciptakan apa-apa? Maka, mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?
(Surat An-Nahl: 17).
Ali dan Burung Unta
Ali sedang makan, sambil
menonton film kartun di televisi. Dalam kartun itu, seekor burung unta berlari
dikejar anjing. Burung unta lari begitu cepat hingga ia dapat melarikan diri
dari sang anjing, dan kembali berkumpul dengan teman-temannya di sarang.
Sebelumnya, Ali selalu mengira burung unta adalah sejenis unggas yang kerjanya
membenamkan kepala di dalam pasir. Ali tak tahu kalau burung unta juga pelari
yang hebat.
“Maksudmu, kamu tidak tahu kalau kami bisa
berlari cepat?” tanya sebuah suara.
Ali memperhatikan
sekelilingnya, terkejut, sebelum menyadari bahwa suara itu berasal dari
televisi. Ia mendekatinya dan mulai berbicara dengan si burung unta di layar
televisi.
“Kamu benar,” kata
burung unta terengah-engah, kehabisan napas. “Kami adalah burung-burung
terbesar di dunia. Kami lebih tinggi dibanding manusia! Contohnya, aku.
Tinggiku dua setengah meter, dan beratku 265 pon (120 kilogram). Kami
tidak bisa terbang, namun Allah memberi kami kemampuan yang berbeda sehingga
kami dapat melarikan diri dari musuh-musuh kami. Kami berlari sangat cepat
dengan kaki-kaki panjang kami, begitu cepat hingga tak seorang pun dapat
menangkap kami kalau berlari dengan kakinya sendiri. Di dunia makhluk hidup,
kami adalah pelari cepat yang memiliki dua kaki. Kami bisa mencapai kecepatan hingga sekitar 45 mil (70 kilometer) per jam
jika kami betul-betul berlari.”
Ali memperhatikan teman barunya
lebih seksama. “Bisa saja aku salah. Tapi, kakimu Cuma punya dua jari ya?
Betul, nggak?”
Burung unta mengangkat salah
satu kakinya agar Ali bisa memperhatikan lebih baik. “Ya. Kami hanya punya dua
jari di setiap kaki. Dan salah satu dari jari ini lebih besar dibanding yang
lain. Kami hanya berlari menggunakan jari besar kami. Seperti kaulihat, Allah
menciptakan kami persis seperti Ia menciptakan makhluk hidup lainnya. Semua
berawal dari ketiadaan dalam cara yang unik. Ia memberi kami sejumlah besar
ciri-ciri untuk membantu kami bertahan hidup. Kami punya banyak ciri yang
berbeda dibanding burung lain yang mungkin kamu kenal …”
“Itu benar sekali,” Ali
merenung. “Aku memikirkan bagaimana caramu menetaskan anak ke dunia ini?”
“Well, Ali,” jawab si burung unta. “Karena badan kami sangat besar, maka telur kami pun juga
sangat besar. Kami menggali sebuah
lubang besar di pasir, dan kami kuburkan telur-telur raksasa kami di
dalamnya. Kami letakkan 10 sampai 12
telur sekaligus, karena itu, kami harus membuat sebuah lubang besar yang cukup
untuk semua telur. Dengan kata lain, kami betul-betul menggali sebuah lubang
yang sangat besar.” Ali menimbang selama satu dua detik. “Mengapa kamu membuat
lubang-lubang itu di pasir?” ia bertanya pada teman barunya.
Burung unta tersenyum, dan
menjilat-jilat bulu-bulunya. “Kalau kami membuat lubang itu di dalam tanah,
bukannya di pasir, maka pengeraman telur akan berlangsung lama sekali. Itu
membuat kami sangat lelah. Memindahkan pasir jauh lebih mudah dibanding
memindahkan tanah. Kamu bahkan bisa menggali pasir dengan jarimu, sementara
untuk menggali tanah, kamu memerlukan sekop. Itulah mengapa kami lebih suka
memanfaatkan pasir. Dengan pasir, kami dapat melakukan pekerjaan kami lebih
cepat, tanpa perlu terlalu melelahkan diri.”
“Setelah
telur-telur kami letakkan di dalam lubang, juga lebih mudah untuk menutupinya
dengan pasir.Tahukah kamu, di dunia saat ini, terdapat jutaan makhluk hidup
yang berbeda-beda jenisnya. Semua makhluk memiliki ciri-ciri luarbiasa. Allah
menciptakan kami semua. Allahlah yang mengajari apapun yang kami lakukan.”
Ali bangkit saat program itu hampir berakhir. “Bertemu
denganmu semakin menambah cinta dan kedekatanku pada Allah. Terima kasih untuk
semua yang telah kauceritakan padaku. Sampai jumpa.”
APAKAH IKAN BISA TERBANG?
Ikan terbang tidak terbang
menggunakan sayap seperti burung. Mereka hanya melayang dengan
sirip-sirip yang menyerupai sayap. Ikan terbang bisa
mencapai kecepatan di atas 35
mil (56 kilometer) per jam. Ikan-ikan kecil ini juga
dapat bergerak lebih cepat di air dengan mengembangkan sirip-sirip mereka, dan
mengangkat ekor-ekornya keluar dari air. Ini memungkinkan mereka untuk melayang
di permukaan.
TAHUKAH KALIAN?
BOOBY, BURUNG PERENANG
BOOBY, spesies burung laut yang
mampu menyelam dalam-dalam, punya kaki besar berselaput. Kaki-kaki ini
dianugerahkan Allah bagi mereka, sehingga burung-burung ini dapat berenang di
atas permukaan air, atau di dalam air. Burung-burung BOOBY menyelam dengan
baik. Mereka menyelam ke dalam laut untuk menangkap ikan dengan paruhnya.
Sebagian besar berada di bawah air cukup lama tanpa perlu naik-naik ke
permukaan. Mereka juga berenang menempuh jarak yang jauh.
KASIF
DAN BERUANG MADU
Seperti biasa,
pagi-pagi sebelum ke sekolah, Kasif duduk di meja untuk sarapan. Ketika ibunya
membuat teh, mata Kasif terpaku pada gambar seekor beruang di stoples madu.
Ibunya sedang sibuk, saat beruang di gambar itu mengedipkan mata pada Kasif,
dan berbicara padanya.
“Salam, Kasif!
Menurutku kamu pasti menyukai madu seperti kami, para beruang …”
“Ya,” Kasif
setuju. “Ibuku tak pernah melupakan madu setiap sarapan. Tetapi madu-madu kami
berasal dari stoples-stoples pasar swalayan. Dari mana madumu kautemukan?”
Beruang
mengerutkan hidungnya sebelum menjawab. “Tuhan kami, Yang memenuhi
kebutuhan-kebutuhan semua makhluk hidup dengan kemungkinan cara terbaik,
memberi kami, para beruang, hidung-hidung panjang yang sangat peka untuk
membaui. Berkat hidung ini kami dapat menemukan makanan dengan mudah.”
Kasif, yang pernah
disengat olehl seekor lebah, kebingungan. “Ketika kamu menemukan sarang lebah
dengan madu di dalamnya, bagaimana kamu mengeluarkan madu itu?” Ia berpikir.
Kali ini
beruang tersebut menyodorkan cakarnya pada Kasif, agar anak itu bisa
melihatnya. “Ketika kami temukan sarang lebah, kami ketuk-ketuk sarang itu
keras-keras dengan cakar untuk menyingkirkan semua lebah di dalamnya. Lalu,
kami menikmati santapan madu di dalamnya. Namun, apapun yang kamu lakukan,
jangan coba-coba melakukan hal yang sama. Nanti, lebah bisa menyengatmu di
mana-mana, dan membuatmu sangat-sangat sakit. Syukur kepada Allah, kami, para
beruang, dilindungi dari sengatan-sengatan lebah berkat bulu tebal kami.”
Kasif berjanji
tidak akan meniru perbuatan sang beruang. “Ada hal lain yang kupikirkan. Tidakkah
kalian, beruang, merasa lapar sepanjang tidur musim dinginmu?” tanyanya.
Beruang itu
menganggukkan kepalanya yang berbulu tebal. “Sebelum tidur sepanjang musim
dingin, kami makan banyak sekali. Untuk membuat lapisan lemak di bawah kulit
kami, kami makan banyak biji-biji pohon beech
dan kastanye. Dengan begitu, kami bisa menyimpan lemak di dalam tubuh. Namun
berat badan kami hilang ketika tiba saatnya keluar dari sarang di musim semi.
Kendati demikian, kami bisa bertahan walaupun kehilangan sebagian besar bobot
tubuh. Tentu saja, kami tidak memikirkan sendiri masalah penyimpanan lemak di
tubuh kami, sebelum memulai tidur musim dingin yang panjang. Kebiasaan makan
banyak-banyak sebelum tidur panjang ini diilhamkan pada kami oleh Allah Yang Mahakuasa.”
“Bisa kulihat
sekarang,” kata Kasif, “bahwa setiap makhluk hidup di muka bumi adalah bukti
tertinggi dari penciptaan Allah. Terimakasih karena sudah mengingatkan hal itu
padaku, temanku …” Beruang itu mengangguk setuju.
Kasif lalu
dikejutkan oleh suara Ibu yang memberitahunya bahwa sarapan telah siap. Sambil
menikmati madunya, Kasif memikirkan beruang itu dan berterimakasih pada Allah,
yang Maha Mengasihi, Yang telah menciptakan beruang begitu sempurna.
Tujuh langit, bumi dan siapapun yang ada
di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak satupun melainkan yang bertasbih
dengan memujinya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka.
Sesungguhnya, Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun (Surat Al Israa’:
44).
Aisyah dan Landak
Suatu hari, ketika berpiknik
dengan keluarganya, Aisyah mengundurkan diri sejenak untuk berjalan-jalan
sendiri. Ia menyukai kawasan hijau tempatnya berjalan-jalan. Ketika tengah
berkeliling, dilihatnya sebuah bola tertutup oleh paku-paku besar yang tajam. “Untung saja aku tidak menginjaknya. Kalau
sampai terinjak, paku-paku tajam itu bisa melukaiku dengan parah,” katanya pada
dirinya sendiri. Kemudian, menakjubkan sekali, bola itu pelahan membuka
gulungannya dan berbicara:
“Kamu benar, Aisyah,” kata
gulungan itu. “Aku adalah seekor landak, dan aku bisa melukaimu dengan
duri-duri tajamku biarpun aku tidak menghendakinya.”
“Ada seekor landak di sini!”
kata Aisyah dengan gembira. “Mengapa badanmu tertutup oleh duri-duri tajam
seperti itu?”
“Allah memberiku duri-duri ini
untuk melindungi diri dari musuh-musuhku,” balas landak. “Ketika berada dalam
bahaya, aku bergulung seperti sebuah bola, dan duri-duri ini melindungiku.”
“Aku tahu, beberapa binatang
pergi tidur sepanjang musim dingin. Bagaimana denganmu?” tanya Aisyah pada
teman barunya.
Sang landak mengangguk. “Aku
tidak begitu menyukai udara dingin.. Segera setelah suhu udara musim dingin
menurun di bawah 55 derajat Fahrenheit (13 derajat Celsius), aku pergi tidur.
Allah Yang Maha Kuasa membuatku tetap tertidur sepanjang musim dingin, dan
membangunkan aku ketika musim panas tiba.
Tidak mungkin bagiku memikirkan sendiri betapa beratnya keadaan-keadaan
musim dingin, sehingga aku bisa memutuskan sendiri bahwa lebih baik buatku untuk
tidur sementara waktu, supaya tetap hidup. Al Quran mengatakan ini: ‘Dan di antara tanda-tanda kekuasaanNya
ialah tidurmu di waktu malam dan siang hari dan usahamu mencari sebagian dari
karuniaNya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat
tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan.’ (Surat ar-Rum: 23).”
“Kamu lihat,” landak itu
melanjutkan, “seperti semua makhluk hidup lainnya, Allah memberitahu kami kapan
waktu paling baik untuk mencari makan.”
Aisyah berpikir sejenak. “Dalam
sebuah film dokumenter, aku melihatmu bertarung tanpa kenal takut melawan
seekor singa besar. Kok bisa kamu tidak takut pada singa?”
Temannya menjawab, “Karena
duri-duri di tubuhku ini, yang telah diberikan Allah sebagai rahmat. Sehingga
membuat diriku berani melawan bahkan musuh-musuhku yang paling berbahaya.
Ketika seekor singa menyerang, pertama-tama aku melarikan diri dengan cepat.
Lalu, aku tiba-tiba berhenti di tempat yang tepat, menaikkan sedikit bagian
belakang tubuhku, dan menunjukkan duri-duriku di sana. Jika singa mencoba
menangkapku dengan gigi-giginya, duriku akan menusuk mulut dan pipinya, membuat
luka yang tidak dapat disembuhkan.”
“Pelahan-lahan, hal itu membuat singa
tak bisa makan apa-apa. Akhirnya, ia mati. Tentu saja, ini semua berasal dari
kecerdikan dan teknik berkelahi yang telah dianugerahkan Allah pada kami. Ialah
yang menciptakan aku, dan memberiku ciri-ciri terbaik untukku agar bisa tetap
hidup.”
“Kamu benar, saudara landak,” Aisyah
menyetujui, ketika ia memperhatikan duri-duri landak lebih cermat lagi.
“Setiap kali kuperhatikan binatang, dan
keragaman ciptaan Allah, itu membantuku melihat kebesaran Allah dan keajaiban
penciptaanNya. Terimakasih untuk obrolan yang menyenangkan ini,” kata Aisyah,
sambil kembali bergabung dengan keluarganya sebelum mereka bertanya-tanya ke
mana ia pergi.
“Selamat jalan, temanku,” seru
landak itu.
MANSUR DAN BERUANG
KUTUB RAKSASA
Mansur dan ibunya mencoba
memutuskan di mana mereka akan menghabiskan libur musim panas. Ibunya
menyarankan agar mereka pergi ke sebuah biro perjalanan, dan memutuskan liburan
mereka dengan memperhatikan brosur-brosur yang mempromosikan negara-negara yang
berbeda. Maka, pergilah mereka ke sebuah biro perjalanan. Begitu memasuki
kantor biro itu, Mansur dan Ibunya berhadapan dengan poster-poster dinding
bergambar tempat-tempat yang belum pernah mereka lihat. Ketika Ibunya
berbincang-bincang dengan pegawai biro tersebut, Mansur mulai memeriksa
poster-poster tersebut satu demi satu.
Mansur terkejut oleh suara yang
datang dari sebuah poster di dekat tempatnya berdiri:
“Hei, Mansur, salam!” kata sebuah suara yang sangat dalam. “Mengapa kamu
dan ibumu tidak berkunjung ke sini saja?”
Mansur mengarahkan kepalanya ke
arah suara itu. Suara itu ternyata berasal dari seekor beruang kutub di poster
yang tergantung tepat di sebelahnya.
“Halo!” katanya. “Kupikir, kamu
adalah manusia salju raksasa.”
Beruang kutub itu tersenyum
gembira. “Kamu benar. Dengan tubuh yang begitu besar, ditambah bulu-bulu putih
ini, kami menyerupai manusia salju. Namun,
dengan tubuh seberat 1.700 pon (800 kilogram),
setinggi 8 kaki (2,5 meter),
kami yakin jauh lebih besar daripada mereka.”
“Aku ingin datang
mengunjungimu, mengenal dirimu dan keluargamu lebih baik lagi. Tapi, tempat
tinggalmu benar-benar dingin.”
“Memang betul,” beruang itu menyetujui. “Kami
tinggal di kawasan paling dingin di dunia seperti Kutub Utara, Kanada Utara,
Siberia Utara, dan Antartika.”
“Terus, mengapa kamu tidak
merasa dingin?” pikir Mansur.
“Pertanyaan yang bagus,”
komentar teman baru Mansur. “Biar kujelaskan. Setiap bagian tubuh kami dirancang
sesuai dengan lingkungan tempat tinggal kami.
Menghadapi dingin yang membeku, es, juga badai-badai salju, lapisan
lemak tebal yang secara ajaib diciptakan Allah di bawah kulit-kulit kami
melindungi kami dari hawa dingin. Bulu-bulu kami, yang juga diciptakan secara
khusus, tebal, lebat dan panjang. Allah menciptakan kami sesuai dengan iklim
tempat tinggal kami. Pernahkah kamu berpikir mengapa kami tidak tinggal di
gurun-gurun Afrika? Pikirkan itu! Jika kami tinggal di gurun pasir, kami akan
kepanasan dan mati. Inilah salah satu tanda bahwa Allah telah menciptakan
setiap makhluk hidup sesuai dengan lingkungan tempat tinggalnya.”
Mendapat kesempatan luar biasa
untuk berbicara dengan seekor beruang kutub, Mansur mulai menanyakan apapun
yang ingin diketahuinya:
“Aku ingat, sebagian besar
beruang tidur di musim dingin. Apakah kalian, beruang-beruang kutub, juga
begitu?”
Beruang itu
mengguncang-guncangkan kepalanya yang putih, berbulu kusut. “Tidak, temanku
sayang. Kami berbeda dengan beruang-beruang lain karena kami tidak tidur
panjang di musim dingin. Hanya beruang-beruang betina, terutama yang sedang
mengandung, yang melakukan itu.”
“Bagaimana bayi-bayi yang baru
lahir memperoleh makanan?” Mansur ingin tahu.
“Syukur kepada Tuhan kami, Yang
menyediakan segala sesuatu. Makanan untuk bayi-bayi yang baru lahir sudah
tersedia bagi mereka. Ibu beruang kutub memberi makan bayi-bayinya dengan
susunya,” beruang itu menjelaskan.
“Jadi, anak-anak itu hanya
diberi susu saja?”
“Itu betul,” jawab beruang
kutub. “Susu Ibu beruang mengandung lemak berkadar tinggi. Susu berlemak ini
memenuhi kebutuhan anak-anaknya lewat kemungkinan cara terbaik. Dengan susu
ini, bayi-bayi beruang kutub tumbuh sangat cepat, dan pada musim semi mereka
siap untuk keluar dari liangnya.
“Mansur, kamu akan menyadari
bahwa karena kami tinggal di belantara yang dingin, dan jelas-jelas tidak mampu
menyelidiki apapun bagi diri kami sendiri, maka tak mungkin kami dapat
mengetahui makanan yang diperlukan oleh bayi-bayi kami ketika baru saja
dilahirkan. Juga, jelas tak mungkin bagi kami untuk menghasilkan susu di dalam
tubuh kami sekehendak kami dengan upaya kami sendiri. Susu kami bahkan tidak
diproduksi oleh pabrik paling modern sekalipun. Kebenaran ini jelas
memperlihatkan kami keajaiban penciptaan Allah.”
“Kamu benar, temanku,” Mansur
setuju. “Sedikit saja orang berpikir, maka ia dapat melihat keajaiban yang
terjadi di sekitarnya setiap saat.”
Beruang kutub melanjutkan
pembicaraan tentang dirinya. Kemudian ia berkata.
“Sekarang, aku punya pertanyaan
untukmu. Tahukah kamu bahwa beruang-beruang kutub adalah perenang dan penyelam
yang sangat baik?”
Mansur takjub. “Kamu pasti
bercanda. Maksudmu, kamu bisa berenang? Dengan badan yang begitu
berat, di air yang membekukan?”
“Aku nggak bercanda,” kata sang beruang. “Kami, beruang kutub, berenang
dan menyelam dengan ahli. Ketika berenang, kami manfaatkan kaki-kaki depan.
Allah, Sang Maha Pemurah, menciptakan kaki-kaki kami sedemikian rupa hingga
dapat digunakan seperti dayung untuk berburu dengan mudah. Ia memberi selaput
di antara jari-jari kami, seperti selaput di antara kaki-kaki bebek. Juga,
untuk memudahkan berburu, Allah menciptakan kami sedemikian rupa hingga kami
dapat menutup lubang hidung kami di dalam air, dan membuat mata kami tetap
terbuka.”
“Seperti dapat kamu lihat,
Mansur,” beruang kutub melanjutkan. “Allah telah menciptakan kami agar dapat
bertahan hidup dalam kondisi-kondisi yang betul-betul sulit. Tidaklah mungkin
kami mengembangkan sendiri ciri-ciri ini pelahan-lahan. Juga, tidak mungkin kami
memperolehnya secara tiba-tiba. Allahlah yang mengajari kami apa yang kami
perlukan untuk bergerak di air.”
“Apa kamu tidak merasa dingin sama sekali di
dalam air es?” tanya Mansur, sedikit menggigil memikirkan itu.
“Sama sekali tidak,” kata
beruang itu, sedikit bangga. “Kalau kalian, manusia, meletakkan tangan atau
kaki kalian di atas gunung es, kalian harus cepat-cepat mengangkatnya. Tapi
kami bahkan tidak merasa dingin, karena Allah menciptakan kaki berlapis bulu
tebal, hingga tidak terpangaruh oleh hawa dingin. Jika kaki-kaki kami tertutup
kulit seperti kamu, kami tidak akan pernah mampu hidup di lingkungan dingin
seperti ini.”
Setelah mendengar apa yang
diceritakan beruang kutub padanya, Mansur memahami lebih jelas lagi bahwa Allah
memiliki kekuatan dan kehendak tak terbatas. Mansur teringat ketika
menghabiskan liburan di desa. Ia telah berenang sepanjang musim panas, namun
airnya hangat karena iklim yang lembut. Ia berpikir dan membandingkannya dengan
air dingin tempat beruang kutub berenang. Maka, jelas baginya bahwa Allah telah
menciptakan binatang-binatang ini sedemikian rupa, untuk membuat mereka tahan
terhadap air dingin. Memikirkan itu, ia menyadari bahwa Allah menciptakan
setiap makhluk dengan tubuh yang ideal untuk lingkungan tempat tinggalnya. Misalnya,
unta diciptakan sedemikian rupa hingga mereka dapat bertahan terhadap panas
gurun. Teman Mansur, sang beruang kutub,
kemudian memotong pemikirannya:
“Mansur, tahukah kamu mengapa kami berwarna
putih atau kekuningan?”
“Tidak.
Aku tidak pernah memikirkannya. Mengapa?”
Beruang
menjelaskan. “Warna putih kami menjamin perlindungan kami dari musuh-musuh kami
dalam lingkungan yang dingin, ber-es, tempat kami hidup. Kami nyaris tak
terlihat bermil-mil di lapangan es putih, karena warna kami sama dengan es.”
Mansur
terkesan. “Betapa masuk akalnya,” katanya. “Jika kamu hitam seperti burung
gagak atau berwarna-warni seperti nuri, maka tak mungkin bagimu untuk
bersembunyi. Itu berarti, kamu dalam bahaya.”
“Ya,
Mansur. Ada banyak hal yang tidak pernah dipikirkan orang, dan hal-hal yang
membuat mereka terbiasa menyaksikannya. Kenyataannya, Allah telah menciptakan
apapun sesuai dengan kebijakan ilahiahNya.”
Mansur merasa sangat bersyukur
pada Allah yang telah memberikannya kemampuan untuk berpikir dan memahami. “Kalau
Allah tidak menghendakinya, aku mungkin akan membuang waktuku dalam kehidupan
fana di dunia ini, mengabaikan pengetahuan dan kekuasaanNya yang luarbiasa.”
Memikirkan percakapannya dengan
beruang kutub, Mansur menyadari betapa pentingnya kehidupan ini. Setiap
informasi baru yang dipelajarinya, meningkatkan cinta dan kekaguman pada Allah.
Karena ini, ia ingin mengetahui lebih banyak lagi tentang beruang-beruang
kutub.
“Aku yakin hidungmu lebih
sensitif untuk membaui dibanding hidung kami, betulkah itu?” ia menduga.
Beruang menganggukkan kepalanya
lagi. “Ya. Indera penciuman kami begitu kuat hingga kami dapat dengan mudah
mendeteksi anjing laut yang bersembunyi di lapisan salju sedalam satu setengah
meter. Seperti kamu ketahui, Allah Yang Maha Kuasa memberikan keunggulan
ciri-ciri yang dimiliki tidak hanya pada kami, tapi juga pada makhluk-makhluk
lain dengan cara yang sama.”
Mansur melanjutkan: “Aku tahu,
terdapat bukti pengetahuan dan kekuasaan Allah yang luarbiasa dalam setiap
makhluk hidup di muka bumi. Biarpun begitu, mendapatkan keterangan lengkap
mengenai makhluk-makhluk hidup ini lebih banyak lagi, meningkatkan ketakjubanku
pada penciptaan Allah yang luarbiasa.”
“Biarkan aku berpikir,” kata
beruang itu. “Kami, beruang kutub, memiliki taktik-taktik menarik yang kami
gunakan di musim dingin dan musim panas. Sekarang, pikirkan bulu putih yang
membuat kami menyerupai manusia salju. Jika kamu hanya memikirkan bulu putih
kami, kamu mungkin akan mengatakan, ‘Kamu tidak akan terlihat.’ Tapi jangan
lupa bahwa kami punya hidung berwarna hitam. Hidung ini membuat kami tidak
dapat sepenuhnya tersamar di antara salju. Jadi, apa yang kami lakukan? Dengan
cerdik, kami tutupi hidung kami dengan
bagian depan cakar yang berwarna putih. Dengan cara itu, kami menyembunyikan
perbedaan warna. Kami menunggu dalam keadaan sepenuhnya tersembunyi di salju
untuk menanti mangsa kami mendekat."
Mansur berseru dalam
ketakjuban: “Itu benar-benar sangat cerdik!”
“Ya, Mansur. Beruang tahu bahwa mereka dapat
menyamarkan diri mereka sendiri, dengan kata lain, menyembunyikan diri, karena
bulu putih mereka dan padang salju di sekitar mereka berwarna serupa. Namun,
lebih jauh lagi, mereka bahkan berpikir untuk menutupi hidung hitam mereka,
yaitu satu-satunya halangan untuk penyamaran mereka di tengah putihnya salju.
Tentu saja, seperti dapat kamu tebak, tidaklah mungkin beruang kutub memikirkan
sendiri apa yang perlu dilakukan setelah beberapa kali kembali dari perburuan
tanpa makanan, setelah itu baru menyadari bahwa mereka perlu menutupi
hidungnya! Beruang hanya bertingkahlaku sebagaimana Allah mengilhamkan pada
mereka untuk berperilaku. Allah merancang mereka dengan cara ini. Pada
akhirnya, mereka, seperti makhluk hidup lainnya, berada di bawah kendali
Allah.”
Mansur memutuskan untuk memberitahu
Ibunya apa yang telah dipelajarinya tentang beruang kutub dalam perjalanan
pulang, dan menjelaskan seni kreatif Allah yang tampak pada beruang-beruang
itu. Ia berterimakasih pada temannya atas percakapan yang mengagumkan itu, dan
kembali ke Ibunya.
Sesungguhnya telah Kami buatkan setiap
macam perumpamaan bagi manusia dalam Al Quran ini supaya mereka mendapat
pelajaran (Surat Az Zumar: 27).
Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila
Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka (cukuplah) Dia mengatakan
kepadanya: “Jadilah.” Lalu jadilah ia (Surat Al Baqarah: 117).
[Orang-orang dengan kecerdasan adalah] mereka
yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring,
dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya
Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau,
maka peliharalah kami dari siksa neraka.”
Omar dan sang Ikan
Suatu hari, Umar dan Ayahnya
bangun di waktu fajar. Mereka pergi
memancing. Umar suka sekali menyaksikan matahari terbit ketika memancing
bersama Ayahnya. Di pagi hari, langit tampak fantastis, dan sinar matahari
mengisi hatinya dengan kegairahan yang sama setiap kali ia menyaksikannya …
Ketika Ayahnya mengganti umpan
pada kail, Umar duduk di sisi perahu kecilnya, memandangi laut. Tiba-tiba, ia
mendengar suara di belakangnya:
“Selamat pagi, teman kecil!”
katanya dengan suara berbuih-buih.
“Hei, selamat pagi juga, ikan
kecil,” kata Umar. “Tampaknya kamu juga bangun pagi, dan berenang. Aku selalu membayangkan,
aku baru saja belajar berenang. Tapi, kalian, ikan, dapat berenang segera
setelah lahir. Kok bisa?”
“Sebenarnya,” kata ikan, “kami, ikan, tidak
perlu bergerak terlalu banyak agar bisa berenang; cukup hanya mengibaskan ekor
kami dari sisi ke sisi. Kami hidup dengan nyaman di dalam air karena tulang
belakang kami yang fleksibel dan beragam sistem di dalam tubuh kami.”
“Pasti kamu berenang dengan
asyik di dalam air,” Umar menggoda.
“Betul sekali,” teman barunya
setuju. “Tapi ingat, tubuh kami telah diciptakan secara khusus agar kami bisa
melakukan itu. Coba pikirkan, menurutmu, lebih mudah berjalan di air atau di
tanah kering? Kami, ikan, telah diciptakan dengan otot-otot dan tulang punggung
istimewa agar mampu hidup dan berenang di dalam air. Tulang punggung kami
menjaga kami tetap lurus dan juga menghubungkan sirip serta otot-otot kami.
Kalau tidak begitu, tak mungkin bagi kami untuk tinggal di air. Kamu lihat,
teman kecil, seperti makhluk hidup lainnya, Allah telah menciptakan kami, ikan,
tanpa kesalahan sedikitpun. Ia juga telah memberikan kami kemungkinan ciri-ciri
terbaik untuk lingkungan tempat kami tinggal.”
“Kamu tidak berhenti berenang
ke kanan dan ke kiri. Kadang-kadang kamu berenang ke kedalaman air. Bagaimana
kamu melakukannya?” tanya Umar.
“Berkat sistem tubuh yang
diberikan Allah pada kami, para ikan, kami bisa melakukan itu,” balas temannya.
“Seekor ikan memiliki kantung udara dalam tubuhnya. Dengan mengisi
kantung-kantung ini dengan udara, kami dapat berenang ke kedalaman, atau mengarah
lurus ke permukaan dengan mengosongkannya. Tentu saja, kami tidak akan pernah
memiliki kemampuan sendiri untuk mengembangkan ciri-ciri ini, kecuali Allah
menghendakinya.”
Ketika ayah Umar meneruskan
pekerjaannya di buritan perahu, Umar melanjutkan percakapannya dengan sang
ikan:
“Aku memikirkan tempat-tempat
yang sangat ramai. Setiap orang harus bergerak ke kanan dan ke kiri pada waktu
yang sama, dan dalam kegelapan, tak mungkin setiap orang bergerak tanpa
membentur orang lain. Bagaimana kalian, ikan, mengatasi masalah tersebut?”
Ikan kecil itu mulai
menjelaskan: “Untuk mencegah benturan dengan yang lain di sekelilingmu, kamu
harus melihat apa yang ada di sana, sementara kami, ikan, tidak membutuhkan
sistem penglihatan seperti itu. Kami
memiliki organ penciuman sempurna yang disebut “garis lateral.” Kami dapat
merasakan perubahan terkecil dalam tekanan yang mungkin terjadi atau riak di
air, atau gangguan terkecil dalam arusnya, begitu hal itu terjadi karena sensor
istimewa pada garis lateral kami. Dengan merasakan getaran-getaran, kami
mengetahui kapan musuh atau halangan itu ada, tanpa benar-benar melihatnya
dengan mata-mata kami. Detektor-detektor ini utamanya peka terhadap
getaran-getaran berfrekuensi rendah di dekatnya. Misalnya, kami dapat merasakan
langkah kaki di pantai, atau apapun yang dilemparkan ke dalam air seketika, dan
bertindak sesuai dengan itu.”
Umar mengangguk penuh semangat.
“Sekarang, aku paham. Aku bisa menyanyi atau
menyalakan radio di atas air. Itu tidak membuatmu tidak nyaman. Namun, getaran
paling lemah yang kubuat di atas air, misalnya jika aku menggetarkan dermaga,
atau melempar batu di dalam air, kamu semua akan menghilang!”
Teman barunya melanjutkan.
“Umar, sistem kami ini, yang disebut para ilmuwan sebagai garis lateral ikan,
sesungguhnya merupakan struktur yang sangat rumit. Tidak mungkin sistem semacam
itu berkembang karena kebetulan, atau tiba-tiba, atau selangkah demi selangkah
sepanjang waktu. Semua unsur dalam sistem-sistem ini mestinya muncul pada waktu
yang sama. Kalau tidak, sistem itu tidak akan bekerja.”
Umar memperhatikan ikan itu
lebih teliti, mengamati bahwa ikan itu tidak punya kelopak mata. Dengan
terkejut, ia bertanya:
“Kamu tidak punya kelopak mata.
Bagaimana kamu melindungi matamu?”
“Kamu benar,” jawab temannya.
“Kami, ikan, tidak punya kelopak mata seperti orang lain. Kami memandang dunia
melalui selaput lembut yang menutupi mata kami. Kamu bisa membandingkan selaput
ini dengan kacamata penyelam. Karena kami perlu melihat objek yang sangat dekat
dengan kami, mata kami telah diciptakan untuk keperluan ini. Ketika kami perlu
melihat ke kejauhan, seluruh sistem lensa bergerak ke belakang berkat mekanisme
otot khusus di dalam mata. Bahkan mata kecil kami punya struktur yang rumit.
Tidak diragukan lagi, inilah bukti-bukti keutamaan penciptaan Allah lainnya.”
Umar teringat dengan sebuah
dokumenter TV yang disaksikannya sehari sebelumnya. Ia melihat kawanan ikan
berbeda warna dan bentuk. Ia berpikir bahwa warna ikan yang cantik, dan
ciri-ciri unik ikan-ikan tersebut merupakan bukti-bukti yang sangat baik
mengenai keutamaan penciptaan Allah. Teman ikan kecilnya yang pandai
melanjutkan keterangannya tentang dirinya sendiri.
“Tahukah kamu, teman kecil,
kalau tubuh-tubuh sebagian besar ikan tertutup oleh kulit yang sangat kuat?”
Omar berpikir beberapa saat.
“Ya, kamu punya kulit bersisik, sudah kulihat itu. Tapi kulit itu tidak
terlihat tebal.”
“Kulit ini tersusun dari lapisan atas dan
bawah,” ikan itu menjelaskan. “Di dalam lapisan kulit atas, terdapat
kelenjar-kelenjar yang menghasilkan unsur yang disebut lendir. Lendir ini
mengurangi gesekan ketika kami bergerak di dalam air. Lendir ini juga
memungkinkan kami bergerak lebih cepat. Selain itu, kelicinannya membuat musuh
sukar menangkap kami. Ciri-ciri lendir lainnya adalah kemampuannya melindungi
kami dari penyakit.”
Umar setuju. “Ya, aku pernah
mencoba memegang ikan dalam ember Ayah dengan tangan, namun mereka seketika
meloloskan diri dari tanganku!”
Ikan tersenyum: “Keistimewaan
kulit kami tidak berhenti sampai di sini. Di kulit atas kami, ada lapisan
khusus terbuat dari keratin. Keratin adalah bahan yang keras, liat, terbuat
dari sel-sel tua yang mati di lapisan bawah kulit yang tidak berhubungan lagi
dengan sumber-sumber makanan dan oksigen.”
“Lapisan terbuat dari keratin ini mencegah air
memasuki tubuh, dan bermanfaat untuk menyeimbangkan tekanan dalam dan luar. Jika
lapisan ini tidak ada, air akan masuk ke dalam tubuh kami, keseimbangan tekanan
akan hancur, dan kami akan segera mati.”
Umar lagi-lagi terkesan, “Betapa
pentingnya keunikan ciri-ciri kulit yang dimiliki seekor ikan. Sesuatu yang
tidak pernah terpikirkan!”
“Kamu benar,” ikan itu setuju.
“Umar, seperti dapat kamu lihat, Allah-lah, Pencipta segala sesuatu, yang
memberikan ikan semua keistimewaan mereka. Allah menyadari kebutuhan-kebutuhan
semua makhluk hidup.”
Umar mendengar suara Ayahnya
dari buritan perahu.
“Ayo Umar, waktunya pulang!”
Umar berhenti sejenak untuk
mengucapkan selamat berpisah pada teman kecilnya.
“Terima kasih atas keterangan
yang sudah kauberikan. Setiap kali kulihat seekor ikan, akan kuingat keutamaan
penciptaan Allah sekali lagi, dan bersyukur pada Tuhan atas segala rahmat yang
diberikanNya pada kita.”
MAKHLUK
BERWARNA-WARNI DI DALAM LAUT: BAGAIMANA IKAN BERNAPAS DI DALAM AIR?
Sistem pernapasan ikan berbeda dengan makhluk hidup lainnya. Orang memiliki
hidung untuk bernapas, dan ikan memiliki insang. Dengan insang, mereka
memanfaatkan oksigen di dalam air. Air yang terus-menerus diambil melewati
mulut-mulut insang dan keluar kembali. Pembuluh-pembuluh yang sangat baik di
dalam insang memindahkan oksigen di dalam air, dan menggantikannya dengan
karbondioksida dari dalam tubuh. Sebagian besar ikan memiliki lubang hidung,
namun tidak pernah digunakan untuk bernapas. Lubang hidung itu memiliki
kantung-kantung kecil, yang digunakan ikan untuk membaui air yang mengalir di sekeliling mereka. Misalnya,
ikan hiu menggunakan bau untuk menemukan mangsanya.
Rasyad dan Taufik
Rasyad
dan Taufik berteman. Nenek Rasyad tinggal di distrik yang sama dengan keluarga
Taufik. Rasyad tinggal bersama neneknya, menghabiskan sebagian libur musim
panas tengah tahunnya setiap tahun. Karena itu, mereka berdua dapat
menghabiskan cukup panjang waktu bersama-sama.
Semester
pertama di sekolah mereka telah berakhir. Setiap orang mendapatkan rapor.
Taufik dan teman-temannya mulai menikmati liburan mereka. Namun karena cuaca
begitu dingin, mereka tak bisa sering-sering bermain di luar rumah pada
hari-hari pertama liburan. Kendati demikian, mereka masih berupaya untuk keluar
sesekali, bertemu teman-teman dan memainkan permainan, biarpun hanya sebentar.
Kadang-kadang, mereka bertemu di rumah salah satu teman dan berbincang-bincang
sambil menyantap kue-kue dan roti-roti kering yang telah disiapkan Ibu.
Tetapi,
biarpun seminggu telah berlalu, Taufik tidak juga melihat Rasyad. Ia bertanya
pada teman-teman lain apakah mereka telah melihat Rasyad. Mereka bilang, mereka
juga tidak melihat Rasyad sejak liburan dimulai. Taufik berpikir, mungkin
Rasyad tidak keluar rumah karena cuaca begitu dingin, biarpun ia tahu biasanya
Rasyad akan keluar rumah jika salju turun, karena temannya itu suka sekali
bermain dengan salju. Ia memutuskan untuk meneleponnya.
Segera
setelah tiba di rumah, Taufik langsung menuju ke telepon dan menghubungi rumah
nenek Rasyad. Nenek Rasyad menjawab telepon itu, dan langsung mengenali suara
Taufik.
“Aku
belum pernah melihat Rasyad sejak sekolah berakhir,” Taufik menjelaskan. “Aku
kuatir, karena itu kupikir aku akan datang dan menemuinya besok. Tapi,
kuputuskan untuk meneleponnya dulu.”
Nenek
Rasyad menjelaskan bahwa Rasyad tidak datang untuk berlibur bersamanya karena
sedang sakit. Rasyad terkena flu berat dan harus menghabiskan liburan dengan
berbaring di ranjang dan beristirahat. “Kuberikan nomor teleponnya padamu, ya,”
kata nenek. “Rasyad akan sangat senang mendengarmu.”
Taufik
mencatat nomor telepon rumah Rasyad, dan langsung menghubunginya.
Ibu
Rasyad menjawab. Katanya, “Rasyad, temanmu Taufik menelepon.” Ibu lalu
memberikan telepon pada Rasyad yang terbaring di kamar tidurnya.
Rasyad
meraih telepon itu dan berkata pada Taufik. “Aku gembira kamu meneleponku.
Senang sekali mendengar suaramu.”
Taufik
mengatakan pada Rasyad bahwa ia merasa kuatir karena tidak melihatnya sepanjang
liburan. Karena itu, setelah menanti beberapa hari, ia menelepon nenek Taufik
dan menyesal mendengar temannya sedang sakit.
Rasyad
menjelaskan bahwa ia terkena flu yang cukup berat di awal liburan, hingga harus
tinggal di rumah karena doktor memerintahkannya tetap di dalam rumah,
beristirahat, tidak pergi ke manapun, sampai ia betul-betul membaik. Jadi
beginilah caranya menghabiskan liburan.
“Cepat
sembuh, ya,” kata Taufik. “Aku ikut sedih mendengarnya. Kuharap kamu akan cepat
pulih.” Rasyad memberitahu Taufik bahwa seluruh temannya di lingkungan Taufik
juga memikirkannya. Kuatir bakal melelahkan Rasyad, Taufik tidak ingin terlalu
lama berbicara dengan temannya yang sedang sakit itu.
Rasyad
berkata, “Aku senang kamu meneleponku. Sampaikan salam pada teman-teman, dan
jangan lupa meneleponku lagi, ya.”
Taufik
kembali memberitahu temannya agar segera membaik dan menutup telepon. Ia sangat
sedih karena temannya sakit dan harus menghabiskan liburannya dengan cara
seperti itu.
Ketika
Ibunya melihat bahwa anaknya tampak sedih, ia bertanya apa masalahnya. Taufik
memberitahu Ibunya tentang masalah yang dialami temannya. “Siapapun tahu betapa
membosankannya menghabiskan liburan dengan cara seperti itu. Aku membayangkan
apa yang bisa kulakukan untuknya,” kata Taufik.
Ibunya
berpikir sejenak. “Mereka tidak tinggal terlalu
jauh. Kamu bisa pergi dan
mengunjunginya. Ibu Rasyad adalah teman
lama yang sudah lama tidak Ibu temui. Ibu bisa pergi dan sekalian bertemu
dengannya.”
“Wah,
bakal asyik tuh, Bu. Kapan kita bisa pergi?” Taufik menyatakan kegembiraannya.
“Telepon
Rasyad, dan tanyakan kapan kita bisa mengunjunginya,” kata Ibunya.
Esoknya,
Taufik menelepon Rasyad pagi-pagi. Ia memberitahu bahwa ia ingin mengunjungi
Rasyad dengan Ibunya, hari berikutnya.
Rasyad
sangat bahagia dan memberitahu Taufik kalau Ibunya juga sangat gembira. Kata
Rasyad, mereka mengharapkan Taufik dan Ibunya datang esok hari.
Taufik
dan Ibunya berangkat pagi-pagi. Setelah menempuh perjalanan selama beberapa
jam, mereka tiba di rumah Rasyad. Ibu Rasyad menyambut hangat. “Aku senang
sekali ketika kudengar kalian akan datang,” katanya. “Kalian betul-betul baik
mengunjungi kami.”
Mereka
bersama-sama pergi ke kamar Rasyad. Ia menyambut mereka dengan gembira dari
tempat tidurnya. Setelah menanyakan kabarnya, dan berbincang-bincang beberapa
saat, Ibu mereka meninggalkan anak-anak itu.
Kemudian,
sesuatu menarik perhatian Taufik. Biarpun harus tinggal di tempat tidur, dan
menghabiskan liburannya dengan berbaring saja, Rasyad tampak sangat ceria.
Tampaknya ia sama sekali tidak sedih dengan keadaannya.
“Kupikir
aku bakal bertemu dengan seseorang yang sangat bosan dan tidak bahagia,”
katanya. “Kalau aku harus menghabiskan liburanku seperti ini, aku akan
betul-betul merasa sedih. Tapi kulihat kamu cukup ceria. Kamu kelihatannya
tidak terganggu sama sekali.”
“Kamu benar,” Rasyad setuju. “Pada hari-hari
pertama, seperti itulah yang kupikirkan, dan aku merasa sangat tidak bahagia.
Aku begitu sedih sampai-sampai tak bisa menghentikan diri menangis dari waktu
ke waktu. Sepupuku Ali datang mengunjungiku, dan merasa sangat kecewa ketika
melihat keadaanku. Ia mengunjungiku kembali beberapa hari kemudian, ketika aku
mulai sedikit membaik. Ia membawa buku. Katanya, ia belum selesai membacanya
dan akan memberikannya padaku ketika telah selesai membacanya. Namun, ia ingin
membacakan untukku bagian yang telah diselesaikannya.”
“Saat
kubilang kalau aku mau mendengarnya, ia membacakan bagian itu. Buku tersebut
menjelaskan bahwa Allah telah menciptakan segala sesuatu untuk tujuan-tujuan
khusus, dan bahwa ada kebaikan bahkan dalam hal-hal yang semula tampak begitu
buruk. Dikatakan buku itu, orang-orang yang mempercayai Allah dan mengimaniNya,
seharusnya bertindak sesuai dengan pengetahuan bahwa rahmat Allah pasti ada
dalam segala sesuatu.”
“Buku itu memberi banyak contoh seperti ini.
Salah satunya, tentang sakit. Apa yang dikatakannya sangat mempengaruhiku.
Seperti dikatakan buku ini, bahkan sakit yang paling sederhana, seperti flu,
memperlihatkan betapa tak berdayanya sesungguhnya manusia itu. Flu disebabikan
oleh sebuah virus kecil yang tak terlihat dengan mata telanjang. Namun virus
kecil ini merampas kekuatan orang dan membuatnya harus berbaring di tempat
tidur. Orang itu bahkan bisa sampai-sampai tak bisa jalan, atau bahkan
berbicara. Orang itu tak bisa melakukan apapun kecuali terbaring dan menunggu
pemulihannya.”
“Kamu
benar,” Taufik setuju. “Ketika itu terjadi, semua yang bisa kaulakukan adalah
minum obat dan menanti agar kesehatan kita membaik.”
Rasyad
melanjutkan pembicaraannya.
“Ketika
jatuh sakit, sadarlah kita betapa berharganya kesehatan itu. Ketika seseorang
berada dalam kesehatan yang baik dan bisa berjalan, berlari, juga bermain tanpa
kesulitan, ia mestinya memikirkan tentang kesakitan, dan bersyukur pada Allah.
Ketika kamu bangun di pagi hari, bisa berjalan, berlari, dan melakukan apapun
yang kamu inginkan, kapanpun kamu mau, tanpa bantuan orang lain, itu merupakan
pemberian yang luarbiasa dari Allah. Seperti dikatakan dalam buku ini, dengan
menciptakan penyakit, Allah membuat orang berpikir dan mengamati hal ini.”
“Ya, apa
yang kamu bilang itu betul,” Taufik mengangguk.
Rasyad
melanjutkan penjelasannya. “Ketika aku mulai berpikir seperti itu, aku tidak
lagi merasa sedih. Aku merasa senang karena pelan-pelan aku mulai membaik. Aku
akan sepenuhnya sehat ketika sekolah dimulai kembali. Aku bahkan lebih senang
lagi karena sehat, bisa berlari dan bermain.”
Saat itulah Ibu Taufik memasuki
ruangan dan memberitahu anaknya bahwa sekarang saatnya pulang.
“Aku ingin membaca buku itu
juga. Maukah kamu mengirimkannya padaku ketika kamu sudah menyelesaikannya?”
“Tentu saja,” kata Rasyad.
“Akan kukirim ke rumahmu segera setelah aku selesai membacanya.”
Dalam perjalanan pulang, Taufik
berpikir lagi tentang apa yang telah dikatakan Rasyad. Ia gembira melihat
temannya bahagia, dan menyimak apa yang telah dikatakan Rasyad padanya. Ia
berkata pada dirinya sendiri, “Kesehatan benar-benar rahmat yang luarbiasa.
Saat pulang nanti, akan kuberitahu semua
temanku tentang hal itu.”
LAMPIRAN:
TIPUAN EVOLUSI
Pada bagian buku
ini, kami akan memeriksa sejumlah gagasan yang dipegang oleh para penganut
teori evolusi, yang tidak meyakini keberadaan Allah, dan mencoba untuk menipu
orang lain dengan menyatakan bahwa segala sesuatu datang dengan sendirinya.
Namun ketika
seseorang mencoba menipu orang lain, kebenaran akan selalu datang pada
akhirnya. Jika orang yang terlibat dalam upaya penipuan itu memang pandai, ia
akan senantiasa menyadari bahwa dirinya telah berbohong. Dan karena para
penganut teori evolusi mengungkapkan kebohongan, mereka bersikap tidak
konsisten. Pada halaman-halaman berikut ini, kita akan melihat betapa tidak
rasionalnya pernyataan-pernyataan mereka, dan bagaimana tipuan mereka telah
disingkapkan.
APAKAH TEORI
EVOLUSI ITU?
Teori evolusi
adalah salah satu gagasan-gagasan keliru yang diajukan oleh orang-orang yang
tidak meyakini keberadaan Allah. Adalah Charles Darwin yang semula mengajukan
teori ini, sekitar 150 tahun lalu. Menurut teori yang tidak logis ini, segala
sesuatu muncul dengan spontan, melalui kejadian-kejadian yang tiba-tiba.
Misalnya, menurut Darwin, satu hari, ikan berubah menjadi reptilia secara
kebetulan. Hari lain, kejadian yang tidak direncanakan terjadi, dan seekor
reptil berubah menjadi seekor burung dan mulai terbang. Sementara untuk
manusia, mereka diturunkan dari kera-kera. Jelas tidak ada kebenaran dalam
kebenaran ini. Satu-satunya kebenaran adalah bahwa Allah menciptakan kita,
semua makhluk hidup lainnya, dunia dan alam semesta. Darwin dan cendekiawan
lain yang menyatakan ini, telah mengungkapkan suatu kebohongan besar.
Atom adalah
partikel-partikel terkecil pembentuk seluruh materi, hidup ataupun tidak. Ini
berarti, apapun di sekeliling kalian, termasuk kalian sendiri, telah dibentuk
melalui penyatuan berjuta-juta atom. Para penganut teori evolusi (mereka yang
mempercayai bahwa Darwin itu benar) mengatakan bahwa atom-atom secara kebetulan
menyatu bersama, dan bahwa makhluk-makhluk hiduppun kemudian bermunculan.
Menurut klaim yang tidak masuk akal ini, suatu hari, angin ribut atau badai
topan akan terjadi dan atom-atom ini akan bergabung bersama-sama.
Menurut skenario
Darwin, atom-atom ini bergabung untuk membuat sel-sel. Seperti kalian ketahui,
setiap makhluk hidup terbuat dari sel-sel. Kumpulan sel ini lalu berkombinasi
membentuk mata kita, telinga, darah, jantung, pendeknya, seluruh tubuh kita.
Kalian harus
mencamkan dalam benak bahwa sel-sel adalah sistem yang sangat rumit. Dalam
setiap sel, terdapat pelbagai organel yang berbeda. Kita dapat membandingkan
sel dengan sebuah pabrik yang luarbiasa besar. Dalam sebuah sel, terdapat
pabrik-pabrik pemroduksi, pengirim bahan-bahan, gerbang-gerbang keluar – masuk,
pusat-pusat produksi, pembawa-pembawa pesan, pusat-pusat kontrol energi, dan
lain-lain. Mungkinkah sebuah pabrik muncul tiba-tiba dengan sendirinya, dengan
batu, tanah, dan air yang datang bersama sesudah badai, dan semua ini terjadi
secara kebetulan? Tentu saja tidak! Setiap orang akan menertawakan pernyataan
yang menggelikan. Biarpun begitu, para penganut teori evolusi membuat sebuah
pernyataan yang ganjil dengan mengatakan, “Sel terbentuk secara kebetulan.”
Biarkan Para Penganut Teori
Evolusi Melakukan Percobaan!
Biarkan para penganut teori evolusi
menyediakan tong besar. Dalam tong itu, biarkan mereka meletakkan seluruh atom
yang mereka inginkan. Izinkan mereka memasukkan dalam tong tersebut apapun yang
mereka kehendaki. Biarkan mereka meletakkan semua bahan mentah yang diperlukan
untuk membuat makhluk hidup di dalam tong itu. Biarkan mereka melakukan apapun
yang mereka inginkan, semaunya. Mereka dapat menyimpan dan mengamati tong itu
selama berjuta-juta tahun. (Mereka dapat mendelegasikan tugas tersebut pada
para penganut teori evolusi yang lebih muda, mengingat satu masa kehidupan
nyaris tak cukup panjang untuk pekerjaan itu.)
Apa yang akan terjadi sebagai hasil dari
semua ini?
Apakah pikirmu ceri, melon, stroberi,
plum, violet, mawar, gajah, jerapah, singa, kambing, kelinci, lebah, kucing,
anjing, tupai, dan ikan bisa muncul dari tong ini? Dapatkah seseorang yang
berpikir, yang menjadi senang atau bahagia, yang menyukai mendengarkan musik
dan membaca buku-buku, kemungkinan keluar dari dalamnya? Tentu saja tidak! Tidak ada seorangpun, seperti profesor yang
terus mengamati tong tersebut, keluar dari dalam tong. Bukan cuma seorang
profesor, satu sel pun dari trilyunan sel dalam tubuh profesor tersebut, tidak
ada yang muncul.
Atom-atom tidak memiliki kehidupan.
Dapatkah materi yang tidak memiliki kehidupan ini muncul bersamaan untuk
menghasilkan makhluk yang hidup, bisa tertawa, dan berpikir?
Tentu saja tidak. Tak ada makhluk hidup
yang bisa muncul dari tong tersebut. Karena makhluk hidup tak terbuat dari
potongan-potongan materi yang tidak memiliki kehidupan, yang disatukan secara
kebetulan. Allah menciptakan semua makhluk hidup. Allah menciptakan manusia,
pegunungan, danau-danau, kambing-kambing, singa, dan bunga-bunga, ketika tak
ada apapun yang muncul. Ia menciptakan segala sesuatu dari ketiadaan hanya
dengan memberikan perintah “Jadilah!”
BAGAIMANA,
MENURUT PARA PENGANUT TEORI
EVOLUSI,
MAKHLUK HIDUP BERKEMBANG?
Allah menciptakan semua spesies, dan tak
satu pun di antara spesies-spesies ini dapat berkembang dari yang lain. Ini
karena setiap spesies memiliki ciri-ciri yang unik.
Namun, teori evolusi keliru mengklaim
bahwa makhluk hidup berkembang sepanjang waktu, mengembangkan ciri-ciri yang
berbeda, dan berubah menjadi makhluk-makhluk lain. Kalian semua sudah
menyaksikan kura-kura, kadal, ular; para penganut teori evolusi membuat klaim
yang tak masuk akal bahwa reptil-reptil (binatang melata) ini berubah secara
kebetulan menjadi burung.
Maka, apa peristiwa-peristiwa yang
mereka klaim telah menyebabkan reptil berubah menjadi makhluk hidup lain? Para penganut teori evolusi percaya bahwa evolusi terjadi
sebagai hasil dari dua peristiwa terpisah yang terjadi secara sinambung,
disebut ‘mutasi’ dan ‘seleksi alam’. Ini, sesungguhnya, adalah keyakinan yang
tidak masuk akal, dan suatu pemikiran tanpa dasar ilmiah.
Apakah Seleksi Alam Itu?
Penjelasan paling sederhana untuk
seleksi alam adalah bahwa makhluk yang paling kuatlah yang akan selamat,
sementara makhluk yang lemah akan menghilang. Mari jelaskan ini dengan sebuah
contoh: bayangkan sekelompok rusa, yang kerap diserang oleh binatang-binatang
buas. Ketika serangan itu terjadi, rusa akan berlari kencang, dan hanya rusa
yang paling tangkas dan lari paling cepatlah yang akan selamat. Pelan-pelan,
rusa yang lemah dan lamban akan sepenuhnya menghilang, karena para pemangsa
berhasil memburu mereka. Hanya tertinggal kini rusa-rusa yang sehat dan kukat.
Karena itu, setelah beberapa waktu, kumpulan itu hanya akan terdiri dari
rusa-rusa yang kuat.
Apa yang sudah kita katakan sejauh ini
sungguh-sungguh benar, namun hal-hal ini tidak berkaitan dengan evolusi.
Bertentangan dengan hal ini, para penganut teori evolusi yakin bahwa sekumpulan
rusa seperti itu dapat pelahan berkembang menjadi jenis hewan lain, jerapah
misalnya. Kalian bis amelihat betapa kelirunya mereka! Tak peduli seberapa
cepat seekor rusa berlari, atau seberapa jauh ia memanjangkan lehernya ke atas,
rusa itu tidak dapat berubah menjadi binatang lain, seperti seekor singa atau
jerapah. Perubahan seperti ini hanya terjadi dalam dongeng-dongeng saja. Kalian
mungkin mengetahui kisah tentang kodok yang berubah menjadi seorang pangeran.
Satu-satunya cara (THE ONLY TIME) kodok dapat berubah menjadi seorang pangeran
hanya ada dalam dongeng. Bagaimanapun, dalam kehidupan nyata, tidaklah mungkin
seekor rusa berubah menjadi seekor singa atau makhluk hidup lainnya. Kendati
demikian, para penganut teori evolusi tetap berkeras bahwa binatang-binatang
itu dapat melakukannya!
Apa
yang Dimaksud dengan Mutasi?
Mutasi adalah
perubahan-perubahan berlawanan yang terjadi dalam tubuh yang hidup. Radiasi
atau unsur-unsur kimiawi dapat menyebabkan mutasi. Efek radiasi atau
unsur-unsur kimiawi dalam makhluk-makhluk hidup selalu mencederai. Hampir 60
tahun silam, saat Perang Dunia Dua, sebuah bom atom dijatuhkan di kota Hiroshima di Jepang.
Bom atom itu menyebarkan radiasi sekeliling wilayah tersebut, dan ini
menyebabkan cedera yang luarbiasa pada orang-orang. Radiasi tersebut
menyebabkan sebagian besar orang yang terkena meninggal dunia atau menderita
sakit parah. Lebih dari itu, radiasi
menghancurkan beberapa sistem tubuh, dan pada gilirannya menyebabkan anak-anak
mereka terlahir lumpuh atau sakit.
Maka, dengan
ingatan akan bencana seperti itu, inilah apa yang diinginkan oleh para penganut
teori evolusi agar kita yakini: Satu hari, seekor ikan mengalami mutasi.
Misalnya, ikan itu terkena, seperti orang-orang Hiroshima, radiasi atau hal sejenis itu.
Sebagai hasil mutasi ini, beberapa perubahan terjadi dalam tubuh ikan, dan
suatu hari, ikan itu berubah menjadi buaya. Ini jelas klaim yang betul-betul edan. Lebih dari itu, seperti kami
jelaskan di atas, mutasi selalu membahayakan makhluk-makhluk hidup. Menjadikan
mereka lumpuh atau sakit parah.
Kita dapat
membandingkan klaim para penganut teori evolusi dengan contoh berikut ini: Jika
kalian memegang kapak dan menghantamkannya ke televisi hitam putih, dapatkah
kalian mengubahnya menjadi televisi berwarna? Tentu saja tidak! Kalau kamu
secara acak memukul televisi dengan sebuah kapak, kalian hanya akan mendapatkan
televisi yang rusak. Dengan cara yang sama, memukul sesuatu dengan kapak secara
sembrono, tak dapat tidak, pasti akan merusaknya. Karena itu, mutasi hanya akan
merusak makhluk hidup.
FOSIL-FOSIL
YANG TAMPAKNYA TIDAK
AKAN
DITEMUKAN OLEH PARA AHLI EVOLUSI
Fosil adalah bagian dari seekor binatang
atau tumbuhan yang telah mati lama berselang—biasanya ribuan atau bahkan jutaan
tahun lalu. Fosil tersimpan dalam
formasi-formasi batuan di lapisan kerak bumi. Agar tetumbuhan atau binatang
dapat menjadi sebuah fosil, ia harus terkubur secepatnya begitu mengalami
kematian. Misalnya, kalau ada seekor burung di tanah dan setumpuk pasir
menimbunnya, maka sisa-sisa burung ini dapat tersimpan jutaan tahun lamanya.
Demikian pula jika terdapat getah damar pepohonan yang menjadi fosil melalui
proses-proses geologis—lantas disebut “amber
[getah beku berwarna
kekuningan, biasanya dibentuk menjadi manik-manik perhiasan]”. Pada peristiwa masa lalu, getah pepohonan ini
memerangkap serangga yang merayap di
batang pohon. Batang pohon itu kemudian
mengeras, dan amber serta serangga di
dalamnya ikut terawetkan tanpa kerusakan selama jutaan tahun, sampai sekarang.
Ini membantu kita memahami lebih banyak makhluk-makhluk yang hidup lama
berselang. Sisa-sisa spesies yang terawetkan disebut fosil.
Apa yang Dimaksud
dengan Fosil
“Bentuk
Peralihan”?
Kekeliruan
terpenting yang ditemukan oleh para pakar evolusi berkaitan dengan
“bentuk-bentuk peralihan (transitional
forms).” Dalam sejumlah buku evolusi, kadang-kadang ini disebut sebagai
“bentuk-bentuk transisi antara/pertengahan.”
Seperti kalian
ketahui, para ahli evolusi mengklaim bahwa makhluk-makhluk hidup berkembang
satu sama lain. Mereka juga menyatakan
bahwa makhluk pertama muncul secara kebetulan. Mereka ingn kita percaya bahwa
makhluk itu pelan-pelan berubah menjadi makhluk lain, dan bahwa makhluk lain
berubah menjadi makhluk yang lainnya lagi, begitu seterusnya. Para
ahli evolusi mengatakan bahwa ikan, misalnya, adalah keturunan dari seekor
makhluk yang menyerupai bintang laut. Ini berarti, suatu hari, seekor bintang laut kehilangan salah satu
tangannya karena mutasi. Selama jutaan tahun berikutnya, bintang laut itu
kehilangan lengannya lebih banyak lagi, kecuali beberapa lengan yang mulai
berkembang menjadi sirip-sirip yang sesuai.. Sementara itu, secara simultan,
semua perubahan lain yang diperlukan oleh bintang laut untuk menjadi seekor
ikan, terjadi (Tak satupun hal seperti ini bisa terjadi, tentunya, namun kita
hanya mengingatkan diri kita sendiri tentang apa yang diinginkan oleh ahli-ahli
evolusi agar kita yakini). Menurut pakar-pakar evolusi ini, bintang laut telah
melewati pelbagai fase yang mengubah mereka menjadi seekor ikan.
Jadi,
binatang-binatang imajiner dalam tahapan perubahan mereka disebut sebagai
spesies pertengahan dalam proses evolusi. Lagi-lagi, sesuai dengan klaim para
penganut teori evolusi yang tidak masuk akal, makhluk-makhluk itu mestinya
memiliki beberapa sisa atau belum sepenuhnya membentuk bagian-bagian tubuh.
Misalnya, spesies pertengahan yang dinyatakan terbentuk ketika ikan berubah
menjadi binatang melata, mestinya memiliki kaki-kaki, sirip, paru-paru, dan
insang “setengah dewasa’. Kita harus ingat bahwa jika makhluk aneh seperti itu
benar-benar pernah hidup di masa lalu, kita pasti akan menemukan fosil
sisa-sisa jasad mereka. Menarik bahwa sampai sejauh ini, tak satu fosilpun dari
spesies pertengahan yang menurut para ahli evolusi ini ada, telah ditemukan.
APA YANG TERJADI
SEPANJANG
PERIODE KAMBRIUM?
Fosil-fosil makhluk hidup paling tua
berasal dari waktu yang dikenal sebagai periode Kambrium, sekitar 500 juta
tahun lalu. Makhluk-makhluk yang hidup sepanjang periode Kambrium juga
membuktikan bahwa teori evolusi benar-benar keliru. Bagaimana bisa demikian?
Makhluk-makhluk ini muncul tiba-tiba sepanjang periode
Kambrium. Sebelumnya, tak ada makhluk hidup yang ada di planet ini. Fakta bahwa
makhluk-makhluk ini muncul tidak dari mana-mana dan semuanya secara tiba-tiba
adalah bukti bahwa Allah menciptakan mereka dengan seketika. Jika teori yang
diusulkan oleh para pakar evolusi itu benar, maka makhluk-makhluk ini mestinya
tumbuh pelahan dari nenek moyang yang lebih sederhana. Jelas-jelas tidak ada
jejak dari organisme semacam itu dalam rekaman-rekaman fosil. Fosil-fosil
memperlihatkan bahwa makhluk-makhluk ini—seperti makhluk hidup lainnya—muncul
tiba-tiba sepanjang periode Kambrium, dengan ciri-ciri mereka seutuhnya, tetapi
tanpa nenek moyang evolusioner tempat asal mereka berkembang. Ini merupakan
bukti paling nyata bahwa Allah telah menciptakan mereka.
Misalnya, ada makhluk yang disebut trilobita yang hidup
sepanjang periode Kambrium, kendati kita tidak bisa lagi melihatnya karena
sudah punah. Trilobita memiliki mata yang sangat rumit, tapi sempurna. Mata ini dibuat dari ratusan sel berbentuk
sarang lebah, yang memungkinkan trilobita melihat dengan jelas. Jelas bahwa
makhluk hidup dengan karakteristik yang luarbiasa seperti ini tidak mungkin
muncul secara spontan berkat bantuan sesuatu yang sifatnya kebetulan saja.
KEKELIRUAN PERUBAHAN IKAN MENJADI
BINATANG MELATA (REPTILIA)
Para ahli evolusi
mengatakan bahwa reptilia berkembang dari ikan. Menurut mereka, suatu hari,
ketika makanan di lautan menjadi sedikit, ikan memutuskan untuk mencari makanan
di darat, dan ketika mereka berada di daratan, mereka berubah menjadi
reptil-reptil agar mampu bertahan hidup di darat. Seperti dapat kalian
saksikan, ini merupakan gagasan yang absurd, karena setiap orang tahu apa yang
akan terjadi pada ikan jika mereka muncul ke daratan: Ikan-ikan itu akan mati!
Pernahkah kalian
memancing? Coba pikirkan! Apa yang akan terjadi jika seekor ikan mengambil
umpan, dan terkait pada joranmu, dan kalian menyelamatkannya, membawanya pulang
ke rumah, agar bisa beristirahat di kebun belakang? Seperti yang baru saja kita
katakan, ikan itu akan mati. Kalau kalian pergi memancing lagi, dan kali ini
membawa pulang banyak ikan, lalu membawa mereka semua ke kebun belakangmu,
maka, apa yang akan terjadi? Hal yang sama: ikan-ikan itu akan mati semuanya!
Biarpun begitu,
para ahli evolusi menolak menyetujui. Mereka bilang, salah satu dari ikan di
kebun belakangmu tiba-tiba mulai berubah ketika sedang sekarat, dan berubah
menjadi seekor reptil, dan terus hidup! Ini benar-benar tidak mungkin!
Semua itu tidak
mungkin karena ada begitu banyak perbedaan antara ikan dan makhluk-makhluk
daratan, dan seluruh perubahan ini tidak dapat terjadi begitu saja secara
kebetulan, dengan tiba-tiba. Mari kita urutkan daftar beberapa
hal yang diperlukan ikan agar bisa bertahan di daratan:
1.
Ikan menggunakan insang untuk bernapas di air. Namun, ikan di darat tidak
dapat bernapas tanpa insangnya, karena itu mereka akan mati jika meninggalkan
air. Ikan akan membutuhkan paru-paru
untuk bernapas di darat. Mari kita andaikan bahwa ikan memutuskan untuk
meninggalkan air dan tinggal di daratan kering: dari mana ia akan mendapatkan
paru-parunya? Lebih dari itu, ikan bahkan tak tahu apa itu paru-paru!
2.
Ikan tidak memiliki sistem ginjal seperti kita, namun mereka akan
membutuhkannya untuk hidup di darat. Jika ikan memutuskan untuk pindah ke
daratan kering, jelas bahwa ikan tidak akan mampu menemukan ginjal untuk
dirinya sendiri, di manapun.
3.
Ikan tidak punya kaki, itulah sebabnya mereka tidak dapat berjalan ketika
mencapai pantai. Lalu, bagaimana ikan pertama yang memutuskan untuk muncul ke
daratan akan menemukan kaki untuk dirinya sendiri? Mengingat ini tidak mungkin,
jelas bahwa para penganut teori evolusi juga keliru soal yang satu ini.
Itulah tiga dari ratusan hal yang mesti dimiliki ikan agar bisa bertahan
hidup di daratan.
Tentang Ikan yang Disebut Coelacanth
Selama
bertahun-tahun, para ahli evolusi kerap menggambarkan ikan yang disebut
“coelacanth” sebagai bentuk peralihan yang nyaris mencapai daratan. Dalam semua
buku dan majalah, para penganut teori evolusi menggambarkan ikan ini sebagai
bukti teori mereka. Mereka berpikir bahwa coelacanth
sudah ada sejak lama, sebelum akhirnya punah. Itulah sebabnya mengapa mereka
menyusun serangkaian kisah palsu ketika meneliti fosil-fosil ikan ini.
Kemudian, hanya
beberapa tahun silam, seorang nelayan menangkap seekor coelacanth di jaringnya. Sejak itu, banyak ikan sejenis tertangkap.
Menjadi jelas bahwa coelacanth itu
hanya ikan biasa. Lebih dari itu, coelacanth
tidak pernah bersiap-siap untuk hidup di darat, seperti dinyatakan oleh
para penganut teori evolusi. Ahli-ahli evolusi itu mengatakan, “Ikan ini
tinggal di air yang sangat dangkal, karena itu ia siap untuk pergi ke daratan.”
Pada kenyataannya, coelacanth tinggal
dalam air yang sangat dalam. Ikan itu bukanlah bentuk peralihan seperti yang
diinginkan para evolusi akan kita yakini. Coelacanth
adalah ikan yang nyata. Masih banyak lagi gagasan-gagasan palsu para penganut
teori evolusi yang sejak itu lalu terbongkar!
TIDAK BENAR BURUNG-BURUNG
BEREVOLUSI DARI REPTILIA
Pernyataan keliru
lain yang dibuat oleh para ahli evolusi adalah tentang bagaimana burung muncul
di dunia ini.
Kisah panjang
mereka adalah bahwa reptilia yang hidup di pepohonan mulai melompat dari satu
pohon ke pohon lainnya, dan ketika mereka melompat, mereka menumbuhkan sayap.
Namun ada kisah panjang lain ketika sejumlah reptil mencoba untuk menangkap
serangga-serangga terbiasa untuk berlari dan mengepakkan tangan. Maka, lengan
merekapun berubah menjadi sayap.
Membayangkan
dinosaurus menumbuhkan sayap sembari berlari, tidakkah ini ganjil dan
menggelikan? Hal-hal seperti ini hanya terjadi dalam kisah-kisah atau
kartun-kartun saja.
Malah ada hal yang
lebih penting. Para penganut teori evolusi mengatakan bahwa dinosaurus besar
menumbuhkan sayapnya ketika mencoba menangkap serangga. Lalu, bagaimana
serangga itu sendiri mampu terbang di udara? Darimana sayap-sayapnya muncul?
Ketika mereka mencoba untuk menjelaskan bagaimana seekor dinosaurus raksasa
dapat terbang, bukankah semestinya mereka menjelaskan terlebih dahulu bagaimana
seekor serangga kecil mampu melakukannya? Tentu saja mereka harus melakukannya.
Namun inilah titik
yang tidak pernah dapat dijelaskan oleh para ahli evolusi. Serangga adalah
salah satu dari makhluk terbang terbaik di bumi. Serangga dapat mengepakkan
sayap 500 sampai 1000 kali per detik. Seperti kalian ketahui, serangga dapat
bermanuver di udara dengan mudah. Tak peduli berapa banyak kisah yang dapat
dituturkan para ahli evolusi, para pakar ini masih belum dapat menjelaskan
bagaimana sayap-sayap burung muncul. Kebenarannya begiini: Allah telah
menciptakan sayap-sayap burung dan serangga, bersamaan dengan kemampuan mereka
untuk terbang.
Archaeopteryx, yang disebut
oleh para ahli evolusi sebagai suatu bentuk peralihan, pada kenyataannya adalah
burung yang sudah berbentuk sempurna!
Biarkan kami
berikan padamu beberapa perbedaan di antara binatang melata (reptil) dan
burung.
1. Burung punya sayap, tapi reptil tidak
memilikinya.
2. Burung punya
bulu, reptil bersisik.
3. Burung punya
sistem tengkorak yang unik, dan tulang mereka berlubang di tengahnya. Ini
membuat mereka lebih ringan dan memudahkan mereka untuk terbang.
Semua itu hanyalah
beberapa perbedaan yang segera terlihat. Terdapat berbagai perbedaan lain di
antara makhluk-makhluk ini.
Jika satu spesies
reptil telah berubah menjadi burung, mestinya ada banyak makhluk yang hidup di
antara reptil dan burung, yang memperlihatkan tahap-tahap perubahan ini.
Para pemburu fosil
seharusnya mampu setidaknya menemukan satu di antara fosil-fosil ini. Yaitu,
mestinya ada makhluk-makhluk bersayap setengah, dengan badan setengah berbulu
dan setengah bersisik, dengan mulut setengah paruh. Fosil-fosil mereka
semestinya telah ditemukan, namun tak ada binatang semacam itu pernah ditemukan
di antara begitu banyak fosil di bumi. Fosil-fosil yang ditemukan tergolong
pada reptil sempurna, atau burung sempurna. Ini berarti, burung tidak
berevolusi dari reptil. Allah menciptakan burung-burung, persis seperti Ia
telah menciptakan semua makhluk hidup lainnya.
Tetapi, karena para
ahli evolusi tidak ingin menerima ini, mereka mencoba untuk meyakinkan orang
bahwa apa yang mereka katakan itu benar, dengan menciptakan kisah-kisah. Mereka
menemukan fosil seekor burung yang disebut Archaeopteryx,
yang hidup kurang lebih 150 juta tahun lalu. Ahli-ahli tersebut mengklaim
bahwa burung ini merupakan bentuk peralihan dari dinosaurus dan burung. Namun,
mengatakan bahwa Archaeopteryx adalah
leluhur burung-burung, benar-benar tidak masuk akal.
Archaeopteryx
adalah
burung yang betul-betul sempurna!
Karena:
1. Archaeopteryx memiliki
bulu, seperti burung-burung kita saat ini.
2. Archaeopteryx memiliki
tulang dada yang sama, yang padanya sayap burung tersambung, seperti
burung-burung terbang lainnya.
3. Archaeopteryx tidak
mungkin merupakan leluhur semua burung, karena fosil-fosil burung yang lebih
tua dari Archaeopteryx sudah
ditemukan.
KISAH PANJANG EVOLUSI MANUSIA
Para ahli
evolusi menyatakan bahwa manusia berevolusi dari kera, dan bahwa kera, karena
itu, merupakan leluhur-leluhur kita. Baik Darwin maupun ahli-ahli evolusi
lainnya tidak pernah memiliki bukti untuk mendukung klaim itu, yang sepenuhnya
hanya rekaan belaka.
Pada kenyataannya, salah satu alasan
mengapa teori evolusi terpikirkan di tempat pertama adalah untuk membuat
manusia melupakan bahwa Allah telah menciptakan mereka. Jika orang percaya
bahwa mereka muncul ke dunia secara kebetulan, dan bahwa leluhur-leluhur mereka
adalah binatang, maka mereka tidak akan merasa memiliki tanggungjawab terhadap
Allah. Pada gilirannya kelak, hal ini menyebabkan mereka melupakan semua
nilai-nilai agamanya dan menjadi egois. Orang-orang yang egois kehilangan
perasaan-perasaan yang baik seperti cinta pada masyarakat dan keluarga mereka.
Kalian lihat, para ahli evolusi mencoba untuk mengarahkan orang pada
perasaan-perasaan semacam itu. Itulah sebabnya mengapa mereka mencoba untuk
menyebarluaskan teori evolusi. Tujuan mereka adalah membuat orang melupakan
Allah, sehingga, kepada setiap orang, mereka berkata, “Allah tidak menciptakan
dirimu. Kamu diturunkan dari kera, dengan kata lain, kamu adalah
binatang yang maju.”
Sesungguhnya, Allah
menciptakan umat manusia. Dibandingkan dengan makhluk hidup lainnya, manusia
adalah satu-satunya makhluk yang dapat berbicara, berpikir, bergembira dan
mengambil keputusan, cerdas, dapat membangun peradaban dan berkomunikasi pada
level yang tinggi. Allah-lah Pemberi ciri-ciri ini pada umat manusia.
Para Ahli Evolusi Tidak Dapat Menawarkan Bukti
Apapun Bahwa Umat Manusia Berasal dari Kera
Dalam bidang sains, penting sekali menghasilkan “bukti.” Ketika kalian
menyusun sebuah klaim atau teori, dan jika kalian ingin orang lain
mempercayainya, maka kalian harus memperlihatkan sejumlah bukti. Misalnya, jika
kalian memperkenalkan diri pada seseorang dan berkata, “Namaku Umar” dan orang
itu mengatakan, “Aku tidak percaya bahwa namamu adalah Umar,” maka, dalam kasus
tersebut, kalian harus memiliki sejumlah bukti bahwa namamu sesungguhnya adalah
Umar. Apa yang bisa menjadi bukti dirimu? Sebuah KTP dapat menghadirkan bukti,
atau akte kelahiran, atau paspor, atau mungkin kartu rapor sekolahmu. Jika
kalian perlihatkan salah satu dari bukti
ini pada orang itu, ia akan percaya padamu.
Sekarang, biarkan kami memberimu sebuah contoh ilmiah. Ada seorang ilmuwan
bernama Isaac Newton yang hidup di abad delapanbelas, dan disebutkan telah
menemukan daya tarik bumi (gravitasi). Ketika orang bertanya padanya apa yang
membuatnya begitu yakin, ia menjawab, “Ketika sebuah apel jatuh dari sebatang
pohon, apel itu jatuh ke tanah. Tidak menggantung di udara.” Itu berarti ada
kekuatan atau gaya yang mendorong apel ke tanah, suatu gaya yang disebutnya
“gravitasi”.
Karena itu, para ahli evolusi harus
memperlihatkan sejumlah bukti untuk membuat teori mereka meyakinkan. Misalnya,
teori evolusi menyatakan bahwa orang-orang berasal kera. Kita, karenanya, perlu
bertanya pada mereka: Dari mana Anda dapatkan gagasan ini, dan di mana
buktinya?
Jika leluhur manusia memang benar-benar kera, kita semestinya berharap
menemukan fosil-fosil setengah manusia-setengah kera untuk menegaskannya.
Namun, fosil semacam itu belum pernah ditemukan. Kita hanya menemukan
fosil-fosil manusia atau kera. Ini berarti bahwa para ahli evolusi jelas belum
punya bukti bahwa kera adalah leluhur manusia.
Namun, para pakar ini masih mencoba untuk menyesatkan orang dengan
teori-teori mereka.
Beberapa Tipuan
Para
Penganut Teori
Evolusi:
1.
Para penganut
evolusi membicarakan fosil-fosil spesies kera yang telah punah, seakan-akan
jenis kera itu termasuk dalam makhluk setengah manusia-setengah kera.
Pasti kalian pernah
melihat gambar seperti di atas di suatu tempat. Para pakar evolusi
menggunakannya untuk menipu orang-orang. Sebenarnya, makhluk seperti itu tidak
pernah ada. Di masa lalu, terdapat manusia dan keras, persis seperti sekarang.
Kedua kelompok itu, dulu maupun sekarang, sepenuhnya terpisah dan tidak
berhubungan satu sama lain. Tak satupun makhluk setengah kera-setengah manusia
seperti terlihat dalam gambar-gambar halaman sebelum ini, yang pernah hidup di
muka bumi. Hal itu tidak akan pernah terjadi.
Seperti telah kami nyatakan sebelumnya, tak satu fosilpun ditemukan
untuk membuktikan klaim tersebut.
Namun, para ahli
evolusi terus-menerus mencoba tipuan-tipuan baru pada topik ini. Misalnya,
ketika menangani sebuah fosil dari suatu spesies kera yang sudah punah, mereka
mengklaimnya seolah benar-benar tergolong dalam makhluk yang terletak di antara
peralihan kera dan manusia. Karena orang-orang tidak memiliki informasi memadai
menyangkut topik ini, mereka cenderung mempercayai apa yang dikatakan oleh para
penganut teori evolusi.
2.
Para penganut
evolusi memperlakukan fosil-fosil manusia dari ras-ras yang berbeda seakan
mereka benar-benar makhluk setengah kera-setengah manusia.
Seperti kita
ketahui, terdapat berbagai kelompok etnis di dunia: Afrika, China, Pribumi
Amerika, Turki, Eropa, Arab, dan banyak lainnya. Jelas, orang-orang yang
termasuk pada kelompok etnik yang berbeda terkadang memiliki ciri-ciri yang
berbeda. Misalnya, orang-orang Cina memiliki mata berbentuk almond, dan
beberapa orang Afrika berkulit sangat gelap dengan rambut yang sangat keriting.
Ketika kalian melihat seorang Pribumi Amerika, atau seorang Eskimo, kalian akan
segera mengetahui bahwa mereka tergolong pada kelompok etnis yang berbeda. Di
masa lalu, ada banyak kelompok etnis lainnya, dan beberapa ciri mereka mungkin
berbeda dari orang-orang di masa sekarang ini. Misalnya, tengkorak orang-orang
ras Neanderthal lebih besar daripada tengkorak orang-orang yang hidup hari ini.
Otot-otot mereka juga lebih kuat daripada kita.
Kendati demikian,
para penganut Teori Evolusi menggunakan perbedaan-perbedaan antarras ini
sebagai cara untuk menipu orang lain. Misalnya, ketika menemukan tengkorak
seorang Neanderthal, mereka mengatakan, “Ini adalah tengkorak leluhur manusia
yang hidup sepuluh ribu tahun silam.” Terkadang, tulang-tulang yang ditemukan
lebih kecil dibanding rata-rata ukuran tulang manusia sekarang ini. Dengan
menunjukkan fosil tengkorak semacam itu, para pakar evolusi akan mengatakan,
“Pemilik tengkorak ini berada pada titik perubahan dari seekor kera menjadi
manusia.”
Pada kenyataannya,
bahkan hingga hari ini, masih terdapat anggota suatu kelompok etnis yang
memiliki tengkorak berukuran lebih kecil daripada ukuran rata-rata. Misalnya,
volume tengkorak Pribumi Australia (orang-orang Aborijin) benar-benar kecil,
tapi ini tidak berarti bahwa mereka adalah makhluk setengah kera-setengah
manusia. Mereka adalah manusia normal, seperti kalian dan manusia lainnya.
Dengan demikian,
kita dapat melihat bahwa fosil-fosil yang dilukiskan oleh para pakar evolusi
sebagai bukti evolusi manusia dari kera, sebenarnya tergolong dalam spesies
kera awal atau ras manusia yang kini telah punah. Ini berarti, makhluk-makhluk
setengah manusia-setengah kera tersebut tidak pernah ada.
PERBEDAAN TERBESAR
Perbedaan terbesar antara kera dan
manusia adalah bahwa manusia memiliki jiwa, sementara kera tidak memilikinya. Manusia memiliki
kesadaran: mereka berpikir, bicara, dan menyampaikan pemikiran-pemikirannya
pada orang lain dalam kalimat-kalimat rasional, membuat keputusan-keputusan,
merasakan, mengembangkan selera-selera, mengetahui tentang seni, lukisan,
membuat lagu-lagu, menyanyi, dan penuh dengan cinta serta nilai-nilai moral.
Semua kemampuan ini unik sifatnya bagi jiwa manusia. Hanya manusialah yang
memiliki ciri-ciri unik ini. Para pakar evolusi tidak mampu menjawab pertanyaan
ini. Guna menyamai manusia, seekor kera
harus melewati banyak perubahan fisik dan kecakapan unik bagi manusia. Adakah
kekuatan alam lain yang dapat memberikan kemampuan seperti melukis, berpikir,
atau menyusun komposisi pada kera? Jelas tidak! Hanya manusia yang diciptakan
Allah dengan kemampuan seperti itu, dan Ia tidak memberikan salah satu dari
kecakapan tersebut pada binatang. Seperti telah kita lihat, tidaklah mungkin
bagi kera untuk berubah manjadi manusia. Manusia sudah menjadi manusia sejak
hari mereka diciptakan. Ikan akan selalu menjadi ikan, dan burung-burung senantiasa
menjadi burung. Tidak ada makhluk yang merupakan leluhur dari makhluk lainnya.
Allah adalah Pencipta umat manusia dan semua makhluk hidup lainnya. Alasan yang
diklaim oleh para penganut Teori Evolusi tentang manusia yang diturunkan dari
kera adalah kemiripan fisik di antara keduanya. Tetapi, banyak terdapat makhluk
lain di Bumi yang malah lebih menyerupai manusia. Kucing dan anjing menyimak
dan mengikuti perintah, seperti manusia. Apa yang kalian pikirkan jika
seseorang mengatakan bahwa manusia diturunkan dari anjing, burung beo, atau
gurita? Kalian lihat, tak ada perbedaan antara gagasan ini dan kisah-kisah yang
direka oleh para penganut teori evolusi.
ALLAH ADALAH PENCIPTA SEMUANYA
Tuhan kita adalah Yang meletakkan milyaran potongan informasi ke tempat
yang begitu kecil,sehingga kita bahkan tidak dapat melihat tanpa peralatan
khusus.
Allah adalah Yang telah menciptakan kita, mata kita, rambut kita, dan kaki
kita.
Ia juga Pencipta keluarga kita, orangtua, saudara lelaki dan perempuan,
teman-teman dan guru.
Allah adalah Pencipta makanan yang kita sukai, selai, sereal dan pasta,
juga buah-buahan dan sayuran yang membuat kita sehat dan kuat. Jika Allah tidak
menciptakannya, kita tidak akan pernah mengetahui bagaimana rasa stroberi.
Allah juga telah memberikan kita indera pengecap dan pencium. Jika ia tidak
memberikan kita kemampuan-kemampuan ini, kita tidak akan dapat mengecap rasa
bahan-bahan yang kita makan. Hal yang sama juga terjadi—apakah kita makan
kentang atau kue. Allah tidak sekadar menciptakan makanan-makanan yang lezat
dan berbau sedap, Ia juga memberikan kita kemampuan-kemampuan yang memungkinkan
kita menikmatinya.
Ada beberapa hal yang kalian sukai. Kalian menikmati dan memikirkannya
sebagai kesenangan. Hal Misalnya, makanan penutup yang kalian santap dengan
nikmat, sebuah permainan yang kalian nikmati permainannya, atau pergi bersama orang-orang yang kalian
cintai. Apapun itu, kalian tidak boleh melupakan bahwa Allah-lah Yang
memungkinkan kalian untuk menikmati hal-hal semacam itu.
Karena Allah penuh belas kasih pada kalian, Ia selalu memberi kalian
benda-benda yang indah dan menyenangkan.
Sebagai permulaan,
ada saat di mana kalian tidak ada. Pikirkanlah, kalian tidak ada sebelum dikandung Ibu. Kalian tiada. Allah
menciptakanmu. Ia membuatmu dari ketiadaan.
Karena itu, kita harus bersyukur pada Allah untuk setiap momen kehidupan
kita. Dalam segala hal yang kita nikmati, dan kita cintai, kita harus mengingat
Allah, dan berkata, “O Allah, selamanya aku bersyukur padaMu atas segala
rahmatMu.” Jika kita mendapatkan diri berada dalam situasi yang tidak kita
sukai, kita semestinya berdoa lagi pada Allah, karena Ialah satu-satuNya yang
dapat mengatasi keadaan.
Allah senantiasa mendengar doa-doa kita dan menanggapinya. Allah mengetahui
apa yang kita pikirkan di kedalaman hati kita; Ia mendengar dan menjawab setiap
doa.
Apa yang harus kita lakukan adalah mempersembahkan rasa terimakasih bahagia
kita kepada Tuhan kita yang telah menciptakan kita, dunia, dan seluruh rahmat
yang dikandungnya. Dengan mengetahui bahwa Allah senantiasa bersama kita, bahwa
Ia melihat dan mendengarkan kita setiap saat, maka kita harus senantiasa berada
dalam perilaku terbaik kita.
Mereka menjawab:
“Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami
ketahui selain dari
apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami;
sesungguhnya Engkau
Maha Mengetahui
(Surat Al Baqarah:
32)
Anak-anak! Apakah
yang kalian ketahui tentang rayap, makhluk-makhluk pekerja keras yang
menyerupai semut? Tahukah kalian bahwa kupu-kupu, dengan sayap yang begitu
indah, bermula dari ulat-ulat mungil, dan akhirnya muncul dari kepompong?
Tahukah kalian
bagaimana burung pelatuk menyembunyikan biji-biji ek dalam lubang-lubang pohon,
bagaimana kunang-kunang tidak terbakar oleh cahaya yang mereka pancarkan,
bagaimana katak-katak menyamarkan diri untuk bersembunyi dari musuh-musuhnya,
atau bagaimana anjing laut tidak membeku dalam samudera es ...?
Cerita-cerita yang
kalian baca dalam buku ini akan memberikan begitu banyak fakta tentang hal itu,
juga hal-hal lain yang memesona. Ketika kalian baca cerita-cerita ini, kalian
akan berpikir dengan seksama tentang binatang-binatang yang ada di dalam buku
ini, dan melihat bagaimana Allah telah menciptakan mereka tanpa kesalahan
sedikitpun.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Sampaikan kritik dan saran anda dengan bahasa yang santun & NO SARA